Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Biaya Produksi Masih Tinggi, Petani Bondowoso Masih Dibayangi Masalah Klasik

Faqih Humaini • Rabu, 20 Mei 2026 | 16:50 WIB
BEKERJA:Petani saat melakukan bajak sawah usai panen.(FAQIH HUMAINI/RADAR IJEN)
BEKERJA:Petani saat melakukan bajak sawah usai panen.(FAQIH HUMAINI/RADAR IJEN)

 

TAMANSARI, Radar Ijen – Tingginya biaya produksi akibat kenaikan harga pupuk dan pestisida masih menjadi persoalan serius yang dihadapi petani di Kabupaten Bondowoso. Di tengah dorongan target swasembada pangan nasional, kondisi tersebut dinilai berpotensi menggerus kesejahteraan petani jika tidak segera diatasi.

Anggota Komisi IV DPR RI, Sony T Danaparamita, menyoroti kondisi tersebut saat menanggapi sektor pertanian di Bondowoso yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian daerah.

Baca Juga: Cuaca Panas Dongkrak Kualitas Semangka di Bondowoso, Segini Harga Murahnya

Ia menegaskan, kebutuhan dasar petani, khususnya pupuk, harus menjadi perhatian utama pemerintah.

Menurutnya, Komisi IV DPR RI telah mengingatkan Kementerian Pertanian terkait pentingnya pemenuhan pupuk bersubsidi. Ia menyebut saat ini sudah ada peningkatan kuota pupuk subsidi sebagai upaya meringankan beban petani di lapangan.

“Kami di Komisi IV juga sudah mengingatkan Kementerian Pertanian terkait kebutuhan pupuk petani. Saya kira sekarang sudah ada peningkatan dari sisi kuota pupuk subsidi yang diperuntukkan bagi petani,” ujarnya, Selasa (19/5).

Meski demikian, ia mengakui kondisi global turut mempengaruhi harga kebutuhan pertanian.

Baca Juga: Veda Ega Kalah Top Speed dari Hakim Danish tapi Unggul Konsistensi Poin, Dipuji Media Italia

Namun, menurutnya, dampak tersebut tidak seharusnya dibebankan kepada masyarakat kecil, khususnya petani.

“Situasi global memang mempengaruhi, tapi itu bukan menjadi beban masyarakat. Pemerintah yang harus memikirkan itu,” tegasnya.

Sony menilai, ukuran kesejahteraan petani tidak cukup hanya dihitung dari selisih biaya produksi dan hasil panen. Petani, kata dia, juga memiliki kebutuhan hidup lain seperti pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan sosial yang harus terpenuhi secara layak.

Ia juga mengapresiasi perbaikan distribusi pupuk subsidi yang dinilai semakin tepat sasaran. Selain itu, kebijakan harga gabah kering panen (GKP) sebesar Rp6.500 per kilogram dinilai cukup membantu menjaga stabilitas harga di tingkat petani.

Dalam kesempatan itu, Sony turut mendorong modernisasi pertanian melalui bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan). Namun, ia mengingatkan pentingnya pengelolaan yang profesional agar bantuan tersebut tidak cepat rusak dan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh kelompok tani maupun gapoktan. (faq/bud)

 

Editor : M. Ainul Budi
#sony t danaparamita #dpr #Bondowoso