NANGKAAN, Radar Ijen – Panen semangka di areal persawahan Kelurahan Nangkaan, Kecamatan Bondowoso, Senin (18/5), berlangsung meriah.
Aktivitas bongkar muat buah segar di tepi jalan raya menarik perhatian para pengendara. Tak sedikit warga yang berhenti untuk membeli langsung dari petani.
Di lokasi panen, sebuah pikap hitam terparkir dengan bak terbuka.
Para pekerja tampak sibuk mengangkut semangka hasil panen, sementara sebagian lainnya menimbang buah sebelum dikirim ke luar daerah. Suasana ramai ini menjadi pemandangan khas saat musim kemarau tiba.
Sugianto, warga Desa Kalianyar, Kecamatan Tamanan, mengaku tertarik membeli semangka karena kebetulan melintas saat panen berlangsung. Ia menilai buah semangka menjadi pilihan tepat di tengah cuaca panas yang melanda wilayah Bondowoso.
“Kebetulan lewat, kok ramai ternyata ada panen semangka. Sekalian beli untuk di rumah. Cuaca panas seperti ini enak makan semangka yang segar. Harganya juga lebih murah kalau beli langsung di petani,” ujarnya.
Petani setempat mengakui, musim kemarau justru menjadi momentum terbaik untuk budidaya semangka.
Intensitas hujan yang rendah membuat kualitas buah lebih terjaga, terutama dari segi rasa yang lebih manis dan kadar air yang pas.
Agus Budiyanto, petani semangka asal Kelurahan Nangkaan, mengatakan dalam satu kali masa tanam selama 63 hari, hasil panen cukup memuaskan.
Dari lahan seluas satu hektare, ia mampu menghasilkan sekitar 25 ton semangka dengan kualitas yang baik.
“Hasilnya lumayan bagus. Kalau cuaca mendukung seperti sekarang, buahnya lebih manis dan tidak mudah rusak. Perawatannya juga lebih terkontrol dibanding saat musim hujan,” jelasnya.
Ia menambahkan, harga jual semangka saat ini berkisar antara Rp8 ribu hingga Rp10 ribu per kilogram.
Dengan modal sekitar Rp70 juta per hektare, petani bisa meraih omzet hingga Rp100 juta dan keuntungan bersih sekitar Rp30 juta.
Kondisi cuaca yang stabil di musim kemarau menjadi faktor utama meningkatnya kualitas dan kuantitas panen semangka di Bondowoso. Hal ini membawa angin segar bagi petani, sekaligus menunjukkan potensi besar sektor hortikultura sebagai penopang ekonomi masyarakat di daerah. (faq/bud)
Editor : M. Ainul Budi