Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Ketua APTRI Bondowoso Minta Kepastian Harga Gula, Petani Siap Pasok 550 Ribu Ton Tebu 

Faqih Humaini • Minggu, 17 Mei 2026 | 19:10 WIB
GELIAT TEBU BONDOWOSO: Sejumlah pekerja di Pabrik Gula Prajekan ketika sedang membawa banyak potongan batang tebu sebelum diolah menjadi gula. (FAQIH HUMAINI/RJ)
GELIAT TEBU BONDOWOSO: Sejumlah pekerja di Pabrik Gula Prajekan ketika sedang membawa banyak potongan batang tebu sebelum diolah menjadi gula. (FAQIH HUMAINI/RJ)

 

PRAJEKAN, Radar Ijen – Musim giling tebu tahun ini mulai berjalan di sejumlah wilayah, termasuk kawasan Bondowoso. Petani tebu yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Bondowoso memastikan kesiapan mereka dalam menyuplai bahan baku ke Pabrik Gula (PG) Prajekan.

Ketua APTRI Bondowoso, Rolis Wikarsono, mengatakan pertumbuhan tebu tahun ini tergolong baik.

Kondisi tersebut didukung oleh cuaca yang relatif bersahabat serta tidak adanya keterlambatan dalam proses tanam maupun perawatan di tingkat petani. 

Baca Juga: Gen Z Dominasi Struktur, PDIP Bondowoso Optimistis Raih 8 Kursi di Pemilu Mendatang

“Dari sisi petani, kondisi tanaman tebu cukup bagus. Ini karena cuaca mendukung dan proses budidaya berjalan tepat waktu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, bersama PG Prajekan, pihaknya telah menyusun rencana kerja musim giling dengan target bahan baku mencapai sekitar 5,5 juta kuintal atau setara 550 ribu ton tebu.

Dari jumlah tersebut, ditargetkan mampu menghasilkan produksi gula minimal 40 ribu ton.

APTRI Bondowoso sendiri saat ini memiliki sekitar 750 petani anggota dengan total luas lahan lebih dari 6.000 hektare yang tersebar di seluruh wilayah Bondowoso.

Baca Juga: Ratusan Ojol Serbu Pemeriksaan Gratis, RSCM Bondowoso Ajak Peduli Kesehatan di Tengah Jam Kerja Panjang

Seluruh hasil tebu tersebut diprioritaskan untuk dipasok ke PG Prajekan yang menjadi satu-satunya pabrik gula di daerah tersebut.

 “Petani berkomitmen untuk mengirimkan tebu ke PG Prajekan, tidak ke pabrik lain. Ini bentuk dukungan kami agar operasional pabrik berjalan optimal,” tegasnya.

Meski demikian, petani juga menyampaikan sejumlah harapan. Salah satunya terkait optimalisasi proses pengolahan tebu di pabrik agar menghasilkan gula berkualitas sesuai standar nasional. Kualitas dinilai sangat menentukan daya saing dan harga jual saat lelang di pasar.

Selain itu, petani mendesak pemerintah segera menetapkan Harga Acuan Pembelian (HAP) gula. Hingga saat ini, proses giling sudah berlangsung, namun kepastian harga belum juga ditetapkan.

Sementara itu, biaya produksi terus meningkat, mulai dari tenaga kerja, ongkos angkut, hingga harga pupuk. “Kami berharap ada penyesuaian harga agar petani tetap mendapatkan keuntungan yang layak,” pungkasnya. (faq/bud)

 

Editor : M. Ainul Budi
#berita bondowoso #pabrik gula prajekan #gula bondowoso #petani tebu