KLEKEAN, Radar Ijen - Kemarau baru berjalan, tetapi krisis air bersih sudah lebih dulu mengetuk Bondowoso. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mulai mendistribusikan bantuan ke desa-desa terdampak kekeringan, namun ancaman lebih besar membayangi, anggaran hanya cukup 30 hari, sementara musim kering diprediksi masih membentang hingga tujuh bulan ke depan.
BPBD Bondowoso mulai bergerak menyalurkan air bersih ke wilayah terdampak kekeringan. Distribusi perdana dilakukan di Desa Klekan, Kecamatan Botolinggo, Senin (11/5), lalu berlanjut ke Desa Lumutan, kemarin (12/5).
Setiap titik mendapat dikirim menggunakan dua truk tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter. "Masing-masing titik kita salurkan 10 ribu liter," ujar Kristianto Putro Prasojo, Kalaksa BPBD Bondowoso.
Namun, penyaluran ini baru langkah awal dari tantangan yang lebih besar. Berdasarkan SK Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan 2026, BPBD harus menjangkau 20 dusun di 13 desa yang tersebar pada sembilan kecamatan.
Mulai dari Maesan, Klabang, Prajekan, Wringin, Tegalampel, Botolinggo, Taman Krocok, Curahdami, dan Tlogosari. "Dasar kita pengiriman itu terbitnya SK status siaga darurat bencana kekeringan 2026," ujarnya.
Dari pemetaan lapangan, tercatat sebanyak 1.784 kepala keluarga atau 7.136 jiwa masuk kategori terdampak.
Meski jumlah itu lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 4.000 KK di 12 kecamatan, BPBD menilai ancaman belum mereda. Penurunan tersebut disebut sebagai dampak sejumlah intervensi, mulai pembangunan sumur bor, perlindungan sumber mata air, hingga program Pamsimas. "Harapannya dengan intervensi itu bisa mengurangi jumlah wilayah kekeringan," ucapnya.
Namun persoalan terbesar kini bergeser pada daya tahan anggaran. Krisis bukan hanya soal air, tetapi juga biaya distribusi. Kenaikan harga BBM non subsidi memangkas kemampuan operasional BPBD. Jika sebelumnya alokasi APBD cukup untuk sekitar 40 kali penyaluran, kini hanya tersisa 30 kali distribusi. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi