DABASAH, Radar Ijen - Dengan 160 narapidana kasus narkoba dari total 418 penghuni, Lapas Bondowoso berada di titik rawan penyusupan barang terlarang.
Maka tak heran, jika razia besar-besaran dan tes urine massal rutin digelar.
Sebagai upaya perang terhadap narkoba dan barang ilegal lainnya di balik jeruji diperketat tanpa kompromi.
Baca Juga: Lapas Saumlaki Sambut Hangat Kunjungan Perdana Kajari KKT yang Baru
Lapas Kelas IIB Bondowoso memperketat perang terhadap narkoba dan handphone ilegal di dalam penjara.
Seperti yang dilakukan pada Jum’at (8/5) lalu, penggeledahan menyeluruh digelar bersamaan dengan tes urine terhadap petugas dan warga binaan.
Kepala Lapas Bondowoso, Nunus Ananto, menegaskan langkah tersebut merupakan tindak lanjut program Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) dengan fokus utama membersihkan lapas dari dua ancaman besar.
“Penggeledahan dengan target utama handphone dan narkoba,” ujar Nunus.
Razia tidak berhenti pada pemeriksaan kamar hunian. Lapas juga menggandeng tenaga medis untuk memberikan sosialisasi bahaya narkoba, disusul tes urine terhadap seluruh pegawai dan warga binaan yang menjadi sasaran.
Baca Juga: Keamanan Jadi Prioritas, Lapas Saumlaki Lakukan Perawatan Gembok Menyeluruh
Sebanyak 67 petugas lapas menjalani tes urine dan seluruhnya dinyatakan negatif. Sementara untuk warga binaan, Lapas Bondowoso menyiapkan 200 alat tes urine yang didatangkan dari Jember. Hasilnya sama: seluruh sampel negatif.
Hasil tersebut menjadi catatan penting bagi Lapas Bondowoso, terutama karena komposisi penghuni saat ini tergolong rawan. Dari total 418 warga binaan, sebanyak 160 orang merupakan narapidana kasus narkoba.
Artinya, mayoritas sasaran tes urine berasal dari kelompok dengan rekam jejak perkara narkotika, kategori yang selama ini menjadi perhatian utama dalam pengawasan internal.
Nunus menegaskan, capaian itu bukan alasan untuk lengah. Pengawasan tetap diperketat mulai dari pintu kunjungan, pemeriksaan barang bawaan, hingga penggeledahan rutin oleh regu pengamanan.
Sebagai langkah antisipasi, lapas juga menyediakan fasilitas wartel resmi agar kebutuhan komunikasi warga binaan tetap terpenuhi tanpa membuka celah penggunaan handphone ilegal.
“Tentu hal ini menjadi cerminan bagi kami menjaga marwah pemasyarakatan dan menjaga Lapas Bondowoso tetap kondusif serta zero halinar,” pungkasnya. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi