BONDOWOSO, Radar Jember – Proses rekrutmen tenaga kesehatan (nakes) non ASN di lingkungan RSUD dr. Koesnadi Bondowoso dipastikan berjalan transparan.
Direktur rumah sakit, Yus Priyatna, menegaskan tidak ada celah manipulasi nilai dalam tahapan seleksi yang kini menjadi sorotan publik.
Penegasan itu disampaikan Yus merespons pertanyaan masyarakat terkait hasil seleksi tenaga perawat, khususnya mengenai nilai peserta yang tidak seluruhnya diumumkan secara terbuka.
Menurutnya, sistem ujian yang digunakan berbasis komputer, sehingga hasil nilai peserta langsung muncul otomatis setelah ujian selesai dikerjakan.
Dengan sistem tersebut, ia memastikan tidak ada ruang intervensi.
“Tidak ada caranya merubah nilai memakai komputer. Begitu dienter, hasilnya langsung keluar dan selesai,” ujarnya.
Yus menjelaskan, setiap peserta sebenarnya dapat mengetahui nilai masing-masing secara langsung usai mengerjakan soal.
Baca Juga: Tegaskan Sudah Sesuai Prosedur dan Regulasi, RSUD Koesnadi Bondowoso Buka Suara Soal Rekrutmen Nakes
Namun, panitia seleksi tidak mempublikasikan seluruh nilai karena seluruh peserta tetap melanjutkan ke tahapan berikutnya.
“Sebetulnya nilainya ada dan bisa dilihat peserta sendiri. Jadi begitu selesai, mereka sudah tahu hasilnya,” jelasnya.
Ia menambahkan, kebijakan teknis terkait pengumuman nilai sepenuhnya menjadi kewenangan panitia seleksi dari bagian kepegawaian rumah sakit.
Meski demikian, ia menegaskan proses yang berjalan tetap terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Panitia tentu punya pertimbangan. Tapi garis besarnya tetap transparan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Yus juga membantah keras adanya dugaan praktik titipan dalam proses rekrutmen tersebut.
Ia memastikan seluruh peserta mengikuti tahapan seleksi sesuai prosedur tanpa pengecualian.
“Tidak ada titipan. Semua wajib ikut ujian,” tegasnya.
Terkait dorongan audit dari sejumlah pihak, termasuk DPRD Bondowoso, pihaknya tidak keberatan apabila proses seleksi diperiksa oleh Inspektorat Kabupaten Bondowoso.
Ia bahkan menyatakan kesiapan membuka seluruh tahapan yang telah dilakukan.
“Kalau memang masih diragukan, silakan diaudit. Tidak ada masalah,” katanya.
Yus menjelaskan, sejak awal Inspektorat memang tidak dilibatkan karena rekrutmen ini bersifat internal rumah sakit dalam skema pegawai kontrak BLUD.
Artinya, kebutuhan tenaga kerja sepenuhnya untuk mendukung operasional layanan rumah sakit.
“Karena ini internal dan yang menggunakan juga rumah sakit sendiri,” imbuhnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa data nilai peserta tidak bisa diakses sembarang pihak.
Hal itu berkaitan dengan perlindungan privasi masing-masing peserta.
“Peserta lain tidak boleh melihat nilai peserta lainnya. Itu bagian dari privasi,” tandasnya.
Rekrutmen nakes non ASN tersebut dilakukan untuk menutup kekurangan tenaga, khususnya perawat.
Saat ini, RSUD Koesnadi disebut masih mengalami defisit SDM, sehingga penambahan tenaga kesehatan menjadi kebutuhan mendesak demi menjaga kualitas pelayanan kepada masyarakat.
“Memang masih minus pegawai. Kebutuhan perawat itu mendesak,” pungkasnya. (faq)
Editor : Faqih Humaini