Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Dulu Sarang Judi, Desa Jebung Kidul Bondowoso Kini Jadi Sentra Bibit Nasional Berkat Tangan Dingin Kades!

Faqih Humaini • Sabtu, 9 Mei 2026 | 06:01 WIB
BERKUNJUNG: Baisuki saat melihat progres bibit miliknya sekitar kantor desa Jebung Kidul Kecamatan Tlogosari. (FAQIH HUMAINI/RADAR IJEN)
BERKUNJUNG: Baisuki saat melihat progres bibit miliknya sekitar kantor desa Jebung Kidul Kecamatan Tlogosari. (FAQIH HUMAINI/RADAR IJEN)

Radar Jember - Sentuhan Kepala Desa Ali Samsidi berhasil mengubah wajah ekonomi Desa Jebung Kidul, Kecamatan Tlogosari, Bondowoso, melalui pengembangan usaha pembibitan tanaman sayur. 

Kini, sekitar 350 kepala keluarga menggantungkan penghasilan dari usaha bibit cabai, tomat, hingga terong yang dipasarkan ke berbagai daerah. 

Siang itu, di bawah terik matahari Kecamatan Tlogosari, seorang pria berperawakan sedang tampak menyusuri deretan polybag hijau yang tertata rapi.

Baca Juga: Musim Kemarau di Bondowoso Tahun Ini Diprediksi Lebih Kering? Warga Diminta Siaga Kekeringan Ekstrem Sejak Dini

Ia berhenti sesekali, menyapa warga, mengecek tanaman, dan berdialog ringan. Dialah Ali Samsidi, sosok di balik lahirnya kampung bibit yang kini menggerakkan ekonomi Desa Jebung Kidul.

Langkahnya pelan namun pasti. Di sela kesibukannya sebagai kepala desa, Ali Samsidi memilih turun langsung ke lapangan.

Siang itu, ia mengunjungi salah satu warga yang tengah merawat ribuan bibit sayuran. Baginya, memastikan geliat ekonomi warganya tetap tumbuh jauh lebih penting daripada sekadar duduk di balik meja kantor desa.

Tak banyak yang tahu, Desa Jebung Kidul, Kecamatan Tlogosari, dulunya bukanlah sentra usaha pembibitan seperti sekarang.

Tahun 2014 silam, aktivitas pembibitan hanya dilakukan segelintir orang. Jumlahnya pun tak lebih dari tiga pelaku usaha. Skala kecil, dengan peralatan seadanya.

Baca Juga: Ketimpangan Pendidikan Bondowoso Harus Segera Tuntaskan!

“Dulu ini hanya usaha kecil. Tidak banyak yang tertarik,” kenang Ali Samsidi saat ditemui di sela kunjungannya.

Namun, ia melihat sesuatu yang berbeda. Potensi. Dari situ, muncul gagasan sederhana. Bagaimana jika usaha kecil ini dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi desa?

Langkah awal pun dimulai. Pemerintah desa mulai memberikan dukungan, baik berupa pendampingan maupun bantuan fasilitas. Perlahan, warga yang awalnya ragu mulai ikut mencoba.

Dari beberapa orang, berkembang menjadi puluhan, hingga akhirnya ratusan kepala keluarga.
Kini, sebanyak 350 KK di Jebung Kidul menggantungkan penghasilan dari usaha pembibitan.

Berbagai jenis tanaman sayur diproduksi, mulai dari cabai, tomat, hingga terong. Tak hanya memenuhi kebutuhan lokal, bibit dari desa ini bahkan sudah dikirim ke berbagai daerah.

Baca Juga: Kopi Bondowoso Masih Jadi Sasaran Pasar Global, Investor Asal Singapura Datang Langsung ke Ijen

Di salah satu sudut desa, Baisuki seorang warga yang tampak sibuk menyiram tanaman. Tangannya cekatan, matanya fokus. Siapa sangka, dulunya ia hanya seorang penjual pisang dengan penghasilan tak menentu.

“Dulu penghasilan paling ya sekitar Rp 50 ribu sehari. Sekarang lebih stabil, bahkan bisa lebih dari itu,” ujarnya sambil tersenyum.

Baginya, beralih ke usaha bibit adalah keputusan besar yang mengubah hidupnya. Tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga memberikan rasa bangga karena bisa mandiri.

Perubahan serupa juga dirasakan banyak warga lain. Bahkan, menurut Ali Samsidi, usaha ini turut membawa dampak sosial yang signifikan. Warga yang dulunya terjebak dalam aktivitas negatif kini beralih menjadi pelaku usaha produktif.

“Ada yang dulu dikenal suka mencuri atau berjudi. Sekarang sudah punya usaha sendiri. Penghasilannya halal,” ungkapnya.

Baca Juga: Jembatan Darurat Tak Bisa Disamakan Proyek Permanen: Begini Penjelasan BSBK Bondowoso

Tak berhenti di situ, pemerintah desa terus berupaya meningkatkan kualitas usaha warga. Salah satu rencana yang tengah disiapkan adalah penggantian andang bambu dengan material galvalum yang lebih kuat dan tahan lama.

Selama ini, para pelaku usaha masih menggunakan bambu yang harus diganti setiap tahun. Dengan galvalum, biaya perawatan diharapkan bisa ditekan dan produktivitas meningkat.

“Kalau lebih awet, mereka bisa fokus ke produksi tanpa harus sering memperbaiki tempatnya,” jelas Ali.

Di tengah hamparan bibit yang menghijau, perubahan itu terasa nyata. Desa yang dulu biasa saja, kini menjelma menjadi kampung bibit yang diperhitungkan. Bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga tentang harapan baru bagi warganya.

Dan siang itu, di antara deretan tanaman yang tumbuh subur, Ali Samsidi kembali melangkah. Menyapa, mendengar, dan memastikan bahwa mimpi yang ia tanam sejak 2014 terus tumbuh, mengakar, dan memberi kehidupan bagi desanya. (dwi)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Sayur #Kades #bibit #Bondowoso #ekonomi desa