Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Musim Kemarau di Bondowoso Tahun Ini Diprediksi Lebih Kering? Warga Diminta Siaga Kekeringan Ekstrem Sejak Dini

Faqih Humaini • Jumat, 8 Mei 2026 | 15:02 WIB
DROPING AIR: Petugas saat mendistribusikan air bersih kepada warga terdampak kekeringan tahun 2025 lalu. (FAQIH HUMAINI/RADAR IJEN)
DROPING AIR: Petugas saat mendistribusikan air bersih kepada warga terdampak kekeringan tahun 2025 lalu. (FAQIH HUMAINI/RADAR IJEN)

 

KEMBANG, Radar Ijen – Ancaman kekeringan ekstrem mulai membayangi Kabupaten Bondowoso.

Prediksi musim kemarau 2026 yang disebut lebih kering dari biasanya membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) angkat suara dan meminta seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan sejak dini.

Krisis air bersih dipastikan menjadi ancaman utama yang berpotensi dirasakan masyarakat secara luas.

Kepala BPBD Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo, menegaskan bahwa kondisi ini tidak boleh dianggap sebagai siklus tahunan biasa.

Baca Juga: Ketimpangan Pendidikan Bondowoso Harus Segera Tuntaskan!

“Ini bukan sekadar kemarau biasa. Kalau durasinya panjang dan curah hujan di bawah normal, dampaknya bisa lebih parah dari tahun sebelumnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, ketergantungan masyarakat terhadap sumur dangkal dan mata air berkapasitas kecil membuat Bondowoso sangat rentan terhadap penurunan debit air.

Saat puncak kemarau, sumber air tersebut berpotensi menyusut drastis bahkan mengering total.

BPBD memprediksi awal kemarau terjadi antara April hingga Juni 2026, dengan puncak kekeringan pada Agustus hingga September. Pada periode tersebut, sejumlah wilayah rawan dipastikan kembali mengalami kesulitan air bersih.

Baca Juga: Kopi Bondowoso Masih Jadi Sasaran Pasar Global, Investor Asal Singapura Datang Langsung ke Ijen

“Wilayah yang selama ini langganan kekeringan harus jadi perhatian khusus. Jangan sampai saat air sudah benar-benar habis, baru kita bergerak,” tegasnya.

Sebagai langkah antisipasi, BPBD mulai menyiapkan skema distribusi air bersih serta pemetaan daerah rawan terdampak.

Namun, upaya tersebut dinilai tidak akan maksimal tanpa dukungan masyarakat.

Karena itu, warga diminta mulai menghemat penggunaan air dan mengelola cadangan air secara bijak sejak sekarang. Kesadaran kolektif disebut menjadi kunci untuk menekan dampak krisis yang lebih luas.

“Kalau tidak disiapkan dari sekarang, distribusi air bisa jadi persoalan besar. Ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab bersama,” tandasnya.

Dengan ancaman kemarau yang dipengaruhi fenomena iklim global, BPBD berharap pemerintah desa hingga masyarakat bergerak cepat.

Sebab, krisis air bersih diprediksi menjadi tantangan paling serius yang akan dihadapi Bondowoso pada 2026. (faq/bud)

 

Editor : M. Ainul Budi
#berita bondowoso #BPBD Bondowoso #Bondowoso