TENGGARANG, Radar Ijen – Potret ketimpangan pendidikan di Bondowoso kian terlihat nyata. Di SDN Rejoagung 5, Kecamatan Sumberwringin , satu ruang kelas hanya diisi dua siswa.
Kondisi ini menjadi gambaran kontras di tengah upaya pemerataan pendidikan yang selama ini digaungkan.
Fenomena tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara sekolah di wilayah perkotaan dan pelosok.
Baca Juga: Kopi Bondowoso Masih Jadi Sasaran Pasar Global, Investor Asal Singapura Datang Langsung ke Ijen
Saat sekolah di kota cenderung padat siswa, sejumlah sekolah di desa justru kekurangan murid hingga nyaris kosong.
Sekretaris Komisi IV DPRD Bondowoso, Abdul Majid, menilai kondisi ini sebagai indikator belum meratanya kualitas dan akses pendidikan.
Menurutnya, ketimpangan ini harus segera diatasi agar tidak semakin melebar.
“Pemkab Bondowoso dalam hal ini Dispendik harus benar-benar memperhatikan kondisi di lapangan. Jangan sampai ada kesenjangan yang terlalu jauh antara kota dan pelosok,” ujarnya.
Ia menegaskan, persoalan ini tidak hanya berdampak pada keberlangsungan sekolah, tetapi juga pada hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan setara.
Jika tidak ditangani, siswa di pelosok berpotensi tertinggal dari sisi kualitas pembelajaran.
Baca Juga: Kenali Petugas Resmi Dorong Kursi Roda dengan Tarif yang Terjangkau
Sementara itu, anggota Komisi IV DPRD Bondowoso, A. Mansur, menekankan pentingnya langkah konkret untuk mengurangi disparitas tersebut. Mulai dari pemerataan fasilitas, distribusi guru, hingga peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah pelosok.
“Diperlukan langkah cepat dan kolaboratif antara berbagai pihak, agar kegiatan belajar mengajar bisa berjalan optimal di semua wilayah,” katanya.
DPRD pun mendorong Dispendik Bondowoso segera melakukan evaluasi menyeluruh sebagai dasar perumusan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Dengan demikian, kesenjangan pendidikan bisa ditekan dan seluruh siswa, baik di kota maupun pelosok, mendapatkan hak yang sama. (faq/bud)
Editor : M. Ainul Budi