SUKOREJO, Radar Ijen - Kopi Bondowoso kembali mencuri perhatian global. Perwakilan lembaga keuangan internasional dari Singapura datang langsung ke kebun petani.
Namun dibalik pujian dan peluang ekspor ke Eropa, tantangan peningkatan kualitas hingga kesejahteraan petani masih jadi pekerjaan rumah.
Daya tarik kopi Bondowoso kian menembus pasar internasional. Dua perwakilan lembaga keuangan global berbasis di Singapura, Charles dan Freedy, datang langsung untuk melihat potensi tersebut dari dekat.
Baca Juga: Jembatan Darurat Tak Bisa Disamakan Proyek Permanen: Begini Penjelasan BSBK Bondowoso
Mereka menyambangi kebun kopi milik Mulyadi, petani asal Kecamatan Tapen, Minggu (3/5). Kunjungan ini bukan sekadar seremonial.
Keduanya meninjau langsung rantai produksi kopi, mulai dari hulu hingga hilir.
Charles mengaku terkesan dengan karakter kopi Bondowoso yang dinilai memiliki cita rasa khas dan natural. Potensi tersebut dinilai cukup kuat untuk bersaing di pasar global, khususnya Eropa.
"Kita sangat tertarik untuk itu, dan akan meningkatkan nilai tambah dari tanaman kopi disini," ujarnya.
Meski begitu, peluang ini bukan tanpa catatan. Charles menyebut pihaknya telah berkeliling ke berbagai negara penghasil kopi.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya lebih besar, menyiapkan ketahanan pangan global, terutama di tengah ancaman krisis iklim dan pertumbuhan penduduk. "Kualitas kopi disini (Bondowoso, red) sangat fantastik," jelasnya.
Baca Juga: DPR RI Terus Soroti Konflik Lahan di Ijen Bondowoso yang Tak Kunjung Usai
Singapura sendiri disebut memegang peran strategis sebagai pusat ketahanan pangan di Asia bagi negara-negara maju.
Karena itu, pendekatan yang dibawa tidak hanya soal ekspor komoditas.
Selain membidik pasar Eropa, mereka juga mendorong peningkatan kualitas kopi melalui pemanfaatan teknologi.
Tujuannya, agar nilai tambah tidak hanya dinikmati pasar global, tetapi juga dirasakan langsung oleh petani.
Konsep ini menekankan keseimbangan antara pertumbuhan industri dan kesejahteraan masyarakat sekitar. Namun, realisasinya tentu membutuhkan kesiapan sumber daya manusia serta konsistensi kualitas produk.
Charles menegaskan, kedatangannya bukan sekadar berbicara bisnis. Ada isu yang lebih besar di baliknya, pembangunan SDM dan penguatan ketahanan pangan dunia. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi