Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Aksi Nekat Petugas MBG Bondowoso Lewati Jalur Ekstrem, Lebih Pilih Nabrak Tebing daripada Masuk Jurang!

Ilham Wahyudi • Sabtu, 2 Mei 2026 | 07:00 WIB
PENUH TANTANGAN: Abdul Malik, petugas distribusi MBG dari SPPG Wringin II mengantarkan makanan kepada siswa di SDN Banyuwulu 4. (ILHAM WAHYUDI/RADAR IJEN)
PENUH TANTANGAN: Abdul Malik, petugas distribusi MBG dari SPPG Wringin II mengantarkan makanan kepada siswa di SDN Banyuwulu 4. (ILHAM WAHYUDI/RADAR IJEN)

Radar Jember - Motor itu melaju pelan di atas jalan berbatu. Ban sesekali tergelincir, memaksa pengendaranya menjaga keseimbangan. Di jalur sempit dengan tebing di satu sisi dan jurang di sisi lain, sedikit saja lengah, risikonya nyawa.

Namun, itu sudah menjadi rutinitas Abdul Malik, 29, petugas distribusi MBG dari SPPG Wringin II, sejak tiga bulan lalu. Dia hampir setiap hari menempuh jalur tersebut. Waktu tempuhnya sekitar 30 menit. Tidak lama memang, tapi penuh tantangan. “Sepanjang jalan batu terus. Ada tanjakan juga,” ujarnya.

Medan itulah yang kerap membuatnya terjatuh. Bahkan, dalam sehari, ia bisa mengalami kejadian itu lebih dari sekali.

Baca Juga: Truk Tebu Bikin Rusak Jalan? Warga Desa di Bondowoso Protes Keras, Ingin Pengusaha Tebu Ikut Kontribusi Tambal Jalan

Namun, sejauh ini ia belum mengalami luka serius. Refleks cepat menjadi penyelamatnya setiap kali kehilangan kendali. “Enggak sampai luka sih. Untungnya saya refleks langsung lompat,” ucapnya.

Salah satu kejadian paling menegangkan terjadi, saat hujan mengguyur. Jalanan tanah bercampur batu menjadi licin, membuat rem tak lagi pakem. “Waktu itu kepleset. Ngerem, tapi licin, akhirnya jatuh,” kenangnya.

Situasi semakin genting karena lokasi kejadian berada di jalur rawan. Di sisi kiri terbentang jurang, sementara sisi kanan berupa tebing. “Kalau saya ke kiri, langsung ke jurang. Tapi saya lompatnya ke kanan, ke arah tebing,” tuturnya.

Muatan yang dibawa memang tidak ringan. Karena itu, ia menggunakan box khusus yang dipasang di motornya agar makanan tetap aman meski terguncang. “Kalau pakai ompreng sudah pasti tumpah,” katanya.

Baca Juga: Akui Perlindungan Berlaku Sejak dari Rumah, 15.300 Buruh Tani Tembakau di Bondowoso Dapat Jaminan Sosialilhan

Motor yang digunakan pun bukan milik pribadi. Kendaraan itu disediakan untuk menunjang pekerjaannya. Dalam sehari, dia bisa menghabiskan sekitar tiga hingga empat liter bahan bakar.

Meski begitu, Abdul Malik tetap bertahan. Ada alasan yang membuatnya terus kembali ke jalur itu, hari demi hari. Di balik jalan berbatu, tanjakan, dan ancaman jurang, ia menemukan makna dari pekerjaannya. “Kasihan anak-anak. Mereka lebih membutuhkan,” ucapnya pelan. (dwi)

 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#SPPG #Mbg #Makan Bergizi Gratis #Bondowoso