Jika biasanya menu makan bergizi gratis (MBG) disalurkan menggunakan ompreng yang sudah tertata rapi. Berbeda dengan Sekolah yang memiliki akses sulit, seperti yang terjadi di SDN Banyuwulu 4. Bagaimana caranya?
ILHAM WAHYUDI, Banyuwulu - Radar Ijen
Senyuman dari muka puluhan siswa sekolah dasar itu, tak bisa disembunyikan dari wajahnya. Ketika petugas distribusi MBG datang ke sekolahnya yang berada di wilayah terpencil.
Hal tersebut menjadi suasana yang hampir terjadi setiap hari di SDN Banyuwulu 4 di Kecamatan Wringin Bondowoso, satu persatu siswa mendapatkan jatahnya masing-masing.
Namun ada yang berbeda, petugas Distribusi MBG tak membawa menu siap saji yang berada di tumpukan ompreng.
Baca Juga: Gus Fawait Tantang RSD Balung: Klinik CPMI Jangan Cuma Murah, Layanan Harus Humanis!
Melainkan menggunakan Wadah Khusus, seperti Wadah yang digunakan untuk prasmanan. Proses membawanya juga tak menggunakan mobil, melainkan Sepeda motor.
Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Bondowoso, Mila Alfarina mengatakan, menu MBG yang diberikan kepada siswa SDN Banyuwulu 4 itu, berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wringin II.
Karena medan ekstream serta jarak tempuh yang cukup panjang, mereka harus melakukan berbagai penyesuaian.
Sehingga dengan jalan yang sangat ekstrim dan keterbatasan distribusi, Perempuan yang akrab disapa Mila itu, mengaku memberikan pelayanan ekstra kepada kurang lebih 120 murid di wilayah tersebut. Untuk pendistribusian sendiri itu memang agak berbeda.
Menu yang diberikan kepada siswa tak langsung berada dalam ompreng. Melainkan dibungkus menggunakan kotak khusus layaknya prasmanan.
Baca Juga: Ketua Pelaksana Jembatan Darurat Sentong Bondowoso Pesimis Sejak Awal? Sudah Khawatir Sejak Awal?
Mila menjelaskan, kotak makanan yang digunakan, masuk dalam kategori food grade. Sehingga bisa dipastikan bahwa sampai sekolah, menu tetap dalam kondisi baik. “Jadi pemorsian, atau memasukan menu makanan ke ompreng-ompreng itu dilakukan di sekolah,” katanya.
Proses pengiriman juga dilakukan lebih awal, karena terdapat beberapa SD dan Paud di wilayah Gubrih dan Banyuwulu yang terpencil dengan medan ekstrim. Biasanya, setiap pukul 8.00, Tim distribusi sudah ada di sekolah. “Berangkatnya lebih awal, bisa jam 6 atau jam 7,” jelasnya.
Meski demikian, menu yang diberikan kepada siswa sama dengan menu yang diberikan di daerah lain. Namun, SPPG diminta lebih memperhatikan wilayah-wilayah terpencil, terutama untuk keamanan pangannya. “Pihak sekolah dan pihak wali murid itu, sangat-sangat membutuhkan MBG di sini,” pungkasnya. (bud)
Editor : M. Ainul Budi