radar jember - KERUSAKAN jembatan darurat penghubung Desa Sukowiryo dan Kelurahan Nangkaan pada Minggu (26/4) ternyata bukan tanpa peringatan.
Warga mengaku sejak awal sudah menyampaikan kekhawatiran terhadap konstruksi jembatan, khususnya pada bagian kaki yang langsung bersentuhan dengan aliran air.
Ketua Panitia Pelaksana Pembangunan Jembatan, Lukman Beryl, mengungkapkan bahwa kekhawatiran tersebut sempat muncul dalam forum rapat bersama pemerintah sebelum pembangunan dimulai.
Saat itu, warga menyoroti potensi risiko dari derasnya arus sungai terhadap struktur bawah jembatan.
“Sejak awal kami sudah menyampaikan kekhawatiran, terutama pada kaki jembatan yang langsung kena air. Tapi saat itu dijelaskan bahwa material kayu kelapa cukup kuat,” ujarnya.
Pembangunan jembatan darurat tersebut merupakan hasil kesepakatan antara warga RT 20 Nangkaan dengan sejumlah pihak, di antaranya Asisten I, BPBD, Camat Kota, Plt Lurah Nangkaan, hingga Kepala Bakesbang.
Dalam pertemuan itu, aspek keselamatan sebenarnya sudah menjadi perhatian utama.
Namun realita di lapangan berkata lain. Saat debit air meningkat drastis, arus sungai membawa berbagai material seperti kayu, bambu, batu, dan ranting yang menghantam bagian bawah jembatan.
Akibatnya, kaki jembatan di sisi utara rusak dan terbawa arus.
“Tekanan arus sangat kuat, apalagi membawa material. Itu yang membuat kaki jembatan tidak mampu bertahan,” jelas Lukman.
Kerusakan tersebut berdampak pada perubahan posisi jembatan yang kini tampak miring. Padahal, saat pertama kali dibangun, posisi jembatan dalam kondisi lurus dan normal.
“Yang miring itu karena kaki jembatan bergeser ke arah timur terbawa arus. Awalnya lurus,” tambahnya.
Beruntung, saat kejadian tidak ada warga yang melintas sehingga tidak menimbulkan korban. Meski demikian, panitia langsung mengambil langkah cepat dengan menutup sementara jembatan darurat dan mengimbau warga untuk tidak melintas.
Untuk sementara, akses warga dialihkan ke jembatan utama di sisi timur yang masih bisa digunakan.
Lukman juga meminta masyarakat bersabar menunggu proses perbaikan, sembari memastikan aspek keamanan menjadi prioritas utama. “Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Demi keselamatan bersama, kami minta warga tidak melintasi jembatan darurat dulu sampai diperbaiki,” pungkasnya. (faq/bud)
Editor : M. Ainul Budi