GUBRIH, Radar Ijen - Perjalanan itu bukan sekadar kunjungan. Di balik debu jalanan berbatu dan belasan kilometer medan terjal, tersimpan cerita tentang harapan yang lama menunggu untuk didengar.
Jalanan berbatu itu seperti tak ada ujungnya. Roda kendaraan berderak pelan, menembus medan yang selama ini akrab bagi warga pelosok Kecamatan Wringin, Bondowoso.
Di ujung perjalanan, Dusun Biser, Desa Gubrih, menyambut kedatangan Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, bersama Wakil Bupati As'ad Yahya Syafi'i, Jumat (24/4/2026). Bukan sekadar datang, keduanya memilih benar-benar hadir menyapa, mendengar, dan merasakan langsung kehidupan warga.
Baca Juga: Jadi Buruan Petani Luar Kota, Bibit Tembakau Maesan Bondowoso Laris Manis
Perjalanan panjang itu seperti menjadi gambaran sederhana: akses yang sulit bukan cerita baru bagi masyarakat setempat. Jalan berbatu, licin saat hujan, dan jarak yang memisahkan mereka dari layanan dasar.
Namun siang itu berbeda. Pelayanan dibawa mendekat. Pemeriksaan kesehatan gratis digelar. Anak-anak sekolah disapa, sekaligus dipantau distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di sudut lain, petugas memberikan layanan suntik ternak, adminduk, hingga pendampingan pertanian.
Ada pula pembagian bantuan pangan. Bahkan, di sela kegiatan, bupati dan warga bersama-sama menanam jagung, sebuah simbol kecil tentang harapan yang ditanam di tanah yang sama.
Baca Juga: Salurkan Ribuan Ton Beras Untuk 162 Ribu Penerima, Sasar Delapan Kecamatan di Bondowoso
Langkah mereka berlanjut ke sekolah di kawasan pelosok. Melihat langsung kondisi pendidikan yang selama ini hanya terdengar lewat laporan. Namun, momen paling hangat justru terjadi setelah Salat Jumat.
Tanpa sekat, tanpa podium. Bupati dan wakil bupati duduk lesehan bersama warga. Di situlah cerita-cerita yang lama terpendam mulai mengalir.
Baca Juga: Bupati Bondowoso Soal Adanya KDMP: Dianggap Bisa Jadi Motor Ekonomi Desa
Ripa (40), warga Dusun Biser, tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Baginya, kehadiran pimpinan daerah adalah ruang langka untuk menyampaikan kegelisahan yang selama ini hanya berputar di antara sesama warga. "Kalau warga Biser, saya minta kesehatan, bidan itu sama jalan dah," jelasnya.
Permintaan itu sederhana, tapi menyimpan beban panjang. Selama ini, warga harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan layanan kesehatan. Ongkos ojek sekali jalan bisa mencapai Rp 100 ribu, angka yang tidak kecil bagi sebagian warga.
Belum lagi saat hujan turun. Jalan berubah menjadi licin dan becek. Perjalanan yang sudah berat, menjadi semakin berisiko.
Cerita serupa datang dari Kepala Desa Gubrih, Dolbari. Di tengah rasa bangga atas kedatangan pimpinan daerah, ia tak menutup kebutuhan mendasar yang masih menjadi pekerjaan rumah.
Salah satunya soal tenaga kesehatan. Dusun Biser belum memiliki bidan yang menetap. Padahal, jarak menuju layanan kesehatan terdekat sekitar 7 kilometer. Dalam kondisi darurat, jarak itu bisa menjadi penentu keselamatan.
"Kami ingin memiliki bidan yang berkenan mau ditempatkan di dusun Biser," ujarnya.
Ia bahkan mengingat satu kejadian yang nyaris berujung tragis: seorang warga hampir melahirkan di jalan saat menuju Pustu di Dusun Krajan.
Cerita-cerita seperti itulah yang ingin didengar langsung oleh Bupati Abdul Hamid Wahid. Baginya, kunjungan ke pelosok bukan sekadar agenda, melainkan cara memahami realitas yang tak selalu terlihat dari balik meja kerja.
Dari sana, pemerintah bisa memilah mana yang bisa segera ditangani, dan mana yang perlu direncanakan lebih matang sesuai kemampuan daerah.
Selain membawa bantuan dan layanan, dialog menjadi bagian penting dari kunjungan itu. "Ya insya Allah nanti akan kita jadwalkan di beberapa tempat," kata Abdul Hamid Wahid, Bupati Bondowoso.
Terkait permintaan penambahan bidan, ia memastikan upaya sudah dilakukan melalui koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan puskesmas setempat. "Karena kondisi geografis yang seperti ini, masyarakat meminta khusus yang disini, yang di dusun ini, ada bidan tambahan," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Bondowoso, M Jasin, menyebut rencana pembangunan Pustu telah dibicarakan bersama pemerintah desa. "Sudah ada titik yang disebut tadi, dari kita nanti mensupport dari peralatannya, dan tenaga," pungkasnya. (*)
Editor : Ilham Wahyudi