BANYUWULU, Radar Ijen - Di saat hiruk-pikuk kota mulai membicarakan digitalisasi pendidikan dan kurikulum berbasis AI, waktu seolah berhenti berputar di sudut-sudut lereng pegunungan Bondowoso.
Di sana, bukan sinyal internet yang dicari para siswa setiap pagi, melainkan pijakan kaki yang stabil.
Hal tersebut merupakan potret buram dari sekolah negeri di Bondowoso, yang berada di wilayah pinggiran. Sejumlah sekolah dasar yang tersebar di pelosok kecamatan, seperti di SDN Banyuwulu 2.
Baca Juga: Jadi Buruan Petani Luar Kota, Bibit Tembakau Maesan Bondowoso Laris Manis
Selain merasakan sulit sinyal, salah satu bangunan rusak. Sehingga pembelajaran dipindah ke ruangan lain.
Salah seorang guru SDN Banyuwulu 2, Fauzan Adima mengatakan, dari delapan orang siswa yang mengikuti Tes Kompetensi Akademik (TKA), satu siswanya, Muhammad Riski terpaksa mengulang.
Akibat tidak dapat menyelesaikan ujian, sesuai waktu yang ditentukan. Alasannya karena sinyal pada saat mengerjakan bermasalah. "Pakai laptop guru lima unit, tiga lainnya pinjam," katanya.
Baca Juga: Bupati Bondowoso Soal Adanya KDMP: Dianggap Bisa Jadi Motor Ekonomi Desa
Akses jaringan internet di tempat itu dianggap kurang mumpuni, sehingga saat mengerjakan TKA, siswa tersebut tidak dapat mengisi soal yang harus dikerjakan secara online. Meski ada wifi yang disiapkan sekolah, namun kualitas jaringannya masih kurang. "Sebelumnya sempat dicoba. Tapi pas pelaksanaan trobel," ujarnya.
Selain sinyal, dia juga mengeluhkan kurangnya sarana prasarana. Meski memiliki bangunan yang direncanakan untuk laboratorium komputer, namun mereka belum memiliki perangkat.
Bahkan, mereka juga belum mendapar bantuan chrome book beberapa waktu lalu.
"Tapi dapat monitor besar itu, kami gunakan sebagai pembelajaran," ucapnya.
Akses siswa menuju sekolah SDN Banyuwulu 2 juga masih sulit. Pantauan Jawa Pos Radar Ijen kondisi jalannya berbatu, serta terdapat banyak tanjakan.
Biasanya para siswa berjalan kaki, sebagian lainnya diantar orang tuanya masing-masing.
Sementara itu, Kepala Sekolah SDN Banyuwulu 2, Miskali menyampaikan, bangunan yang rusak harusnya digunakan oleh siswa kelas VI.
Akibat hal itu, proses belajar mengajar dialihkan ke dalam ruang laboratorium. "Pondasi bangunannya bergeser, sehingga bagian dinding atasnya retak parah," jelasnya.
Para siswa SDN Banyuwulu 2 harus berjalan ratusan meter hingga beberapa kilometer setiap pagi. Akses siswa menuju sekolah SDN Banyuwulu 2 juga masih sulit.
Pantauan Jawa Pos Radar Ijen. Jalannya berbatu, serta terdapat banyak tanjakan. "Biasanya para siswa berjalan kaki, sebagian lainnya diantar orang tuanya," paparnya.
Dia juga membenarkan, bahwa satu siswanya harus mengulang TKA. Karena tak bisa menyelesaikan ujian, akibat terkendala jaringan internet.
Padahal menurutnya, kekuatan sinyalnya sudah ditingkatkan sebelumnya. "Mungkin karena faktor geografis atau gimana, saya kurang paham," pungkasnya. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi