Radar Ijen - Tak hanya dikenal dari kualitas panennya, kini bibit tembakau asal Kecamatan Maesan, Bondowoso, justru menjadi komoditas unggulan yang diburu hingga luar daerah.
Permintaan yang terus meningkat membuka peluang ekonomi baru bagi petani lokal.
Pamor tembakau Maesan kian moncer. Bukan hanya daun keringnya yang dikenal berkualitas, bibit tembakau dari wilayah ini kini menjadi incaran petani dari berbagai daerah.
Baca Juga: Banyak Kegiatan Pemkab Terkesan Copy Paste, DPRD Bondowoso Soroti Kinerja OPD yang Lemot?
Dalam beberapa waktu terakhir, permintaan bibit tembakau Maesan mengalami peningkatan signifikan. Para pembeli datang tidak hanya dari wilayah Bondowoso, tetapi juga dari luar kabupaten hingga luar daerah.
Para petani menilai, bibit tembakau Maesan memiliki keunggulan dari segi daya tumbuh dan ketahanan tanaman.
Selain itu, kualitas hasil panen yang dihasilkan dinilai lebih stabil dan memiliki nilai jual tinggi di pasaran.
“Kemarin sempat kesini (Maesan, red). Setelah ditanam, ternyata bibit tembakaunya memang bagus,” kata Sudiyanto, warga Situbondo yang tengah memilih bibit.
Ketika masuk masa tanam tembakau, biasanya para petani di Desanya mencari bibit ke Maesan.
Baca Juga: Salurkan Ribuan Ton Beras Untuk 162 Ribu Penerima, Sasar Delapan Kecamatan di Bondowoso
Karena dianggap memiliki kualitas yang lebih baik. Padahal di dekat tempat tinggalnya, juga ada petani yang menjual bibit tembakau. “Kalau bibit sebenarnya ada juga di dekat rumah. Cuma kurang cocok kayaknya,” ujar Risyanto, warga Situbondo lainnya.
Kondisi ini menjadi peluang tersendiri bagi petani. Mereka tidak hanya mengandalkan hasil panen tembakau, tetapi juga mendapatkan tambahan penghasilan dari penjualan bibit.
Seiring meningkatnya permintaan, petani pun mulai lebih serius dalam proses pembibitan.
Mulai dari pemilihan benih unggul, perawatan, hingga pengawasan kualitas dilakukan lebih ketat agar kepercayaan pasar tetap terjaga.
Untuk menjaga kualitas bibit tembakau, mereka melakukan perawatan secara rutin. Dari mulai tanam hingga dapat dijual kepada pembeli, butuh waktu kurang lebih 30 hingga 40 hari.
“Kalau jenisnya beragam, ada yang Naos, Somporis dan lokalan,” terang Farhan, salah seorang pekerja di tempat penjualan bibit tembakau. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi