Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Dibalik Meroketnya Harga LPG Non-Subsidi, Konsumsi Stabil Tapi Beban Operasional Usaha Kian Berat

Ilham Wahyudi • Selasa, 21 April 2026 | 22:27 WIB
MEROKET: Salah seorang pemilik pangkalan gas LPG di Bondowoso melayani pelanggannya, beberapa waktu lalu. (ILHAM WAHYUDI)
MEROKET: Salah seorang pemilik pangkalan gas LPG di Bondowoso melayani pelanggannya, beberapa waktu lalu. (ILHAM WAHYUDI)

 

DABASAH, Radar Ijen - Kenaikan harga LPG non-subsidi tak menggoyahkan konsumsi. Namun, dampaknya mulai menjalar ke sektor usaha. Dari hotel hingga dapur layanan publik, biaya operasional merangkak naik dan harga jual terancam ikut terkerek.

PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga LPG non-subsidi di seluruh Indonesia sejak 18 April 2026. Kenaikan ini melanjutkan tren penyesuaian harga yang sudah terasa sejak akhir Maret lalu.

Harga gas Bright 12 kilogram kini naik sekitar Rp 36 ribu menjadi Rp 228 ribu per tabung. Di tingkat pengecer, bahkan sudah menyentuh Rp 245 ribu. Sementara itu, Bright 5,5 kilogram ikut naik Rp 17 ribu menjadi Rp 107 ribu.

Baca Juga: KDKMP Tak Hanya Jadi Tempat Suplai SPPG MBG, Tapi Bisa Jadi Pangkalan LPG dan Apa Lagi? Ini Penjelasan Zulhas

Di Bondowoso, kenaikan ini tidak serta-merta menurunkan penjualan. Segmen pengguna yang didominasi kalangan menengah ke atas membuat konsumsi relatif stabil.

Pemilik pangkalan LPG di Kelurahan Badean, Yono mengatakan, tren kenaikan sebenarnya sudah terjadi bertahap. Namun, respons pasar cenderung datar. "Ini kan istilahnya yang pakai menengah ke atas. Walaupun naik ya wajar saja," ujarnya.

Dalam sehari, ia menjual sekitar 10 hingga 15 tabung Bright. Mayoritas pembeli berasal dari pelaku usaha seperti rumah makan, hotel, rumah sakit, hingga dapur SPPG. Sementara konsumen rumah tangga relatif terbatas. "Rumah tangga ada satu, dua," ujarnya.

Menariknya, di tengah kabar kelangkaan di sejumlah daerah, pasokan di Bondowoso justru terbilang aman.

Baca Juga: CEK FAKTA! Kebijakan Gaji ke-13 ASN Apa Benar Dibatasi, Simak Detailnya Ini

Bahkan, ada konsumen dari luar kota yang membeli LPG non-subsidi di wilayah tersebut. 

"Kalau nonsubsidi bebas karena nonsubsidi, mau dijual ke Jember, Situbondo. Tapi kalau 3 kilogram subsidi ini tidak boleh, bisa pidana," tegasnya.

Meski konsumsi tetap stabil, dampak kenaikan mulai terasa di sektor usaha. Esterlita, Manajer Hotel Palm Bondowoso, mengaku tempatnya rutin menggunakan Bright 12 kilogram hingga tiga tabung per pekan.

Kenaikan harga yang terjadi bertahap selama sebulan terakhir kini mulai membebani operasional. Dengan harga yang mencapai Rp 245 ribu per tabung, pengeluaran meningkat signifikan. "Bisa hampir 20 persen kenaikannya ya," pungkasnya. (ham/bud)

 

Editor : M. Ainul Budi
#lpg non subsidi #Jember #situbondo #lpg #Bondowoso