Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Menyusuri Jejak Leluhur Tanpa Alas Kaki, Tradisi Ngideri Desa Ramban Kulon di Kabupaten Bondowoso

Ilham Wahyudi • Senin, 13 April 2026 | 12:17 WIB
RUTIN: Sejumlah warga desa Ramban Kulon, Kecamatan Cermee melaksanakan tradisi ngideri. (DISPARBUDPORA)
RUTIN: Sejumlah warga desa Ramban Kulon, Kecamatan Cermee melaksanakan tradisi ngideri. (DISPARBUDPORA)

RAMBAN KULON, Radar Ijen - Malam itu gelap. Pematang sawah menjadi jalan, tanpa alas kaki.

Sebelas laki-laki berjalan pelan mengelilingi desa sembari membawa alat untuk ditabuh. Bagi warga Ramban Kulon, itu bukan sekadar tradisi, melainkan ikhtiar menjaga keselamatan yang diwariskan turun-temurun sejak ratusan tahun silam.

Warga menyebutnya ngideri, bagian dari rangkaian ritual gugur gunung, warisan budaya yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI) oleh pemerintah.

Baca Juga: Tegur Orang Asing, Warga Bondowoso Ini Malah Berujung Luka Parah di Badannya

“Setelah diusulkan tiga tahun lalu, baru Desember 2025 ditetapkan sebagai WBTBI,” kata Hery Kusdaryanto, Plt Kabid Kebudayaan Disparbudpora Bondowoso.

Akar tradisi ini tak bisa dilepaskan, dari sosok Raden Imam Syafi’i, orang yang diyakini warga sebagai penyebar Islam di wilayah tersebut.

Nama itu terus hidup dalam ingatan kolektif warga. Bahkan, perjalanan spiritualnya dipercaya menjadi dasar dari tradisi ngideri.

Ritualnya sederhana namun sarat makna. Sebelas laki-laki berjalan kaki tanpa alas, mengelilingi desa hingga dini hari. Mereka menyusuri pematang sawah dalam gelap, sembari membawa alat khusus untuk ditabuh.

“Yang mereka gunakan adalah alat-alat khusus, bukan alat-alat musik seperti biasa,” ujarnya.

Baca Juga: Banyak SPPG MBG di Bondowoso, Ribuan Orang Bisa Dapat Lapangan Kerja Baru

Ngideri biasanya dilakukan pada 20 Syawal setiap tahun. Dilaksanakan sebanyak 7 kali, pada malam Jum’at berturut turut di berbagai tempat berbeda. Ngideri dilaksanakan pada malam Jumat pertama.

Setelah itu, rangkaian dilanjutkan dengan doa bersama di rumah kepala desa serta rumah warga.

Bagi warga, tradisi ini bukan sekadar warisan, tetapi juga kewajiban.

Maka tak heran, jika tradisi tersebut dijaga ketat, termasuk para pelakunya yang dipilih secara turun-temurun.

“Kepercayaan warga, kalau tidak dilaksanakan, akan ada balak. Pasti akan ada kejadian-kejadian yang di luar nalar kita.” imbuhnya.

Kini, ngideri telah diakui sebagai bagian dari warisan budaya tak benda.

Bagi warga Ramban Kulon, pengakuan itu penting, agar tradisi tidak hilang, apalagi diambil pihak lain.

“Karena warisan budaya tak benda itu rawan. Pertama itu rawan hilang, kemudian yang kedua rawan diambil orang.” pungkasnya. (ham/bud)

 

Editor : M. Ainul Budi
#jejak leluhur #TRADISI #Bondowoso