DABASAH, Radar Ijen - Gejolak global tak lagi terasa jauh. Di Bondowoso, dampaknya nyata, harga plastik melonjak, usaha air minum menaikkan harga, sementara pedagang kecil terjepit di antara biaya naik dan daya beli yang rapuh.
Seperti yang dialami oleh Holifah, pedagang di Pujer. Dia mulai menghitung ulang dagangannya. Bukan karena sepi pembeli, melainkan karena biaya yang diam-diam terus merangkak naik. Yang berubah bukan hanya harga, tapi juga cara bertahan.
Harga plastik, benda sederhana yang selama ini dianggap sepele, kini menjadi persoalan besar. Dalam sepekan terakhir, lonjakannya terasa nyata.
Baca Juga: Dinkes Bondowoso: Stok Vaksin Imunisasi Campak Diklaim Aman
Biasanya, satu bendel kresek merah berisi 10 pack bisa dibeli seharga Rp 45 ribu. Kini, harga itu melonjak menjadi Rp60 ribu. Lebih dari itu, jumlah pembelian pun dibatasi. “Sekarang itu tipis, tidak seperti dulu, mudah sobek gitu,” ujarnya.
Situasi ini memaksanya beradaptasi. Ia tak berani menaikkan harga cincau yang dijual Rp 5 ribu per kilogram.
Kekhawatiran kehilangan pelanggan menjadi pertimbangan utama.
Sebagai gantinya, ia menghapus bonus yang biasanya diberikan kepada pembeli.
Bahkan, ia mulai mengimbau pelanggan membawa wadah sendiri.
“Tapi ada yang sudah ngerti juga, bawa tempat sendiri,” ucapnya.
Di sisi lain, tekanan yang sama juga dirasakan pelaku usaha skala lebih besar. Perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) di Bondowoso, menjadi salah satu yang terdampak langsung.
Baca Juga: Pemkab Bondowoso Terus Perhatikan Penggunaan Gas Melon, Tekankan Tepat Sasaran dan Kesadaran Warga
Kenaikan harga bahan baku plastik memaksa perusahaan ini menyesuaikan harga jual. Dari sebelumnya Rp 14 ribu per dus, kini naik menjadi Rp 17 ribu.
Direktur perusahaan air tersebut, Rizky Fareza, menyebut lonjakan harga bahan baku terjadi cukup drastis. Harga gelas plastik yang sebelumnya sekitar Rp 90 per buah, kini naik menjadi Rp 157 hingga Rp 160.
Kenaikan itu tidak terjadi sekaligus, tetapi bertahap sejak sebelum lebaran dan memuncak dalam sepekan terakhir. "Setelah lebaran itu, 25 Maret kita naikkan. Tanggal 30 itu kenaikannya luar biasa waktu itu," pungkasnya. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi