KEMBANG, Radar Ijen - Ancaman krisis air bersih mulai membayangi Kabupaten Bondowoso seiring prediksi musim kemarau 2026 yang diperkirakan lebih kering dari biasanya. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengingatkan bahwa dampak paling krusial yang perlu diantisipasi sejak dini adalah keterbatasan air bersih bagi masyarakat.
Kepala BPBD Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo, menegaskan bahwa krisis air bersih menjadi dampak paling kritis yang harus menjadi perhatian semua pihak. Pasalnya, sebagian besar sumber air di Bondowoso masih mengandalkan sumur dangkal dan mata air berkapasitas kecil.
“Kalau kemarau berlangsung panjang, debit air akan turun drastis. Bahkan di beberapa wilayah, sumur warga berpotensi kering total, terutama mulai Juni hingga September yang menjadi periode paling rawan,” ujarnya.
Berdasarkan prakiraan BPBD, sebagian besar wilayah Bondowoso akan mulai memasuki musim kemarau pada April hingga Juni 2026, dengan puncaknya diprediksi terjadi pada Agustus hingga September.
Kondisi ini diperparah dengan sifat hujan yang cenderung di bawah normal, sehingga berpotensi menyebabkan penurunan debit sumber air secara signifikan.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak bisa dianggap sepele karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.
Jika tidak diantisipasi sejak awal, distribusi air bersih bisa menjadi persoalan serius, terutama di wilayah yang selama ini sudah langganan kekeringan.
BPBD pun telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, salah satunya dengan memperkuat skema distribusi air bersih ke wilayah terdampak.
Baca Juga: Percepat Layanan dan Tekan Antrean, Disparbudpora Bondowoso Terapkan Cashless Untuk Jelajah Wisata
Selain itu, pihaknya juga mendorong masyarakat untuk mulai melakukan penghematan dan pengelolaan air secara bijak sejak sekarang, sebelum dampak kemarau benar-benar dirasakan.
“Kami juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Mulai dari penggunaan air yang efisien hingga kesiapan menghadapi kemungkinan terburuk. Karena kunci menghadapi kemarau ini ada pada kesiapan bersama,” tegasnya.
Dengan prediksi kemarau yang lebih kering akibat pengaruh fenomena iklim global, BPBD berharap seluruh elemen, mulai dari pemerintah desa hingga masyarakat, dapat bergerak lebih cepat dalam mengantisipasi potensi krisis air bersih yang diperkirakan menjadi tantangan utama tahun ini. (faq/bud)
Editor : M. Ainul Budi