BONDOWOSO, Radar Jember - Puncak musim kemarau 2026 di Kabupaten Bondowoso diprediksi terjadi pada Agustus hingga September.
Menghadapi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bondowoso mulai menyiapkan langkah antisipasi secara menyeluruh untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan.
Prakiraan BPBD menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Bondowoso akan mengalami musim kemarau dengan intensitas lebih kering dari normal.
Baca Juga: Langkah Tegas Bupati Bondowoso Sikapi Wacana Efisiensi ASN: Siap Batasi Penggunaan Mobil Dinas
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada ketersediaan air bersih, tetapi juga berpotensi memicu kekeringan lahan pertanian hingga kebakaran hutan dan lahan.
Kepala BPBD Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo, mengatakan bahwa kesiapsiagaan menjadi kunci utama dalam menghadapi puncak kemarau.
Pihaknya telah melakukan berbagai persiapan agar penanganan tidak bersifat reaktif.
“Kami sudah memetakan potensi dampak sejak awal. Jadi ketika memasuki puncak kemarau, kami tidak lagi meraba-raba, tapi langsung bergerak sesuai rencana mitigasi yang sudah disiapkan,” ujarnya.
Baca Juga: Wacana Jadwal WFH ASN, Ketua DPRD Bondowoso: Jangan Jadi Libur Panjang
Salah satu fokus utama adalah penguatan distribusi air bersih ke wilayah-wilayah rawan kekeringan.
BPBD juga meningkatkan koordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa untuk memastikan setiap wilayah memiliki kesiapan yang memadai.
Selain itu, sistem peringatan dini dan pelaporan kejadian juga diperkuat.
Hal ini penting agar potensi bencana dapat terdeteksi lebih awal dan segera ditangani sebelum berkembang menjadi lebih luas.
“Kami minta semua pihak, termasuk pemerintah desa dan masyarakat, aktif melaporkan jika ada tanda-tanda kekeringan atau kebakaran. Respons cepat sangat menentukan keberhasilan penanganan,” tegasnya.
BPBD juga menaruh perhatian pada potensi kebakaran hutan dan lahan yang meningkat saat puncak kemarau.
Vegetasi yang mengering akibat minimnya curah hujan menjadi faktor utama yang memicu kerawanan tersebut, terutama di kawasan lereng dan hutan produksi.
Dengan berbagai langkah yang telah disiapkan, BPBD berharap dampak puncak kemarau dapat ditekan semaksimal mungkin.
Sinergi antara pemerintah dan masyarakat dinilai menjadi faktor penentu dalam menjaga kondisi tetap terkendali selama periode rawan tersebut. (faq)
Editor : Faqih Humaini