BLINDUNGAN, Radar Ijen – Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid, menegaskan komitmennya menjaga keberlanjutan ekosistem tembakau lokal di tengah berbagai dinamika regulasi nasional.
Salah satu yang menjadi perhatian serius adalah keberadaan Industri Kecil Menengah (IKM) rokok yang dinilai memiliki peran strategis dalam menopang ekonomi kerakyatan.
Menurut bupati, IKM rokok bukan sekadar sektor industri biasa. Lebih dari itu, keberadaannya menjadi penghubung penting antara hasil produksi petani tembakau dengan pasar industri. “IKM rokok di Bondowoso merupakan bagian integral dari rantai nilai tembakau lokal,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sektor ini tidak hanya menyerap hasil panen petani, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat.
Dalam konteks pembangunan ekonomi berbasis rakyat, keberlangsungan IKM rokok harus mendapat perlindungan melalui pembinaan usaha, peningkatan daya saing, hingga advokasi kebijakan ke pemerintah pusat.
“Regulasi yang diterapkan jangan sampai menimbulkan goncangan ekonomi terhadap industri rakyat. Ini yang terus kami perjuangkan,” tegasnya.
Di sisi lain, Abdul Hamid Wahid juga menyoroti wacana adaptasi teknologi budidaya tembakau untuk menurunkan kadar nikotin.
Baca Juga: Perumda Ijen Tirta Dituntut Setor PAD Bondowoso, Diwarning Jangan Sampai Boncos Lagi
Ia mengakui bahwa secara teknis hal tersebut memungkinkan, namun harus dikaji secara matang dari sisi ekonomi.
Menurutnya, perubahan teknik budidaya berpotensi meningkatkan biaya produksi sekaligus menekan nilai jual hasil panen. Kondisi ini dikhawatirkan justru merugikan petani. “Jangan sampai inovasi malah memindahkan risiko ekonomi ke petani,” katanya.
Karena itu, setiap transformasi teknologi pertanian harus berbasis pada analisis kelayakan ekonomi yang komprehensif. Selain itu, perlu adanya jaminan harga serta kepastian akses pasar agar petani tidak dirugikan dalam proses perubahan tersebut.
Terkait diversifikasi komoditas, bupati menyebut langkah tersebut tetap menjadi bagian dari strategi pembangunan pertanian daerah. Namun, pelaksanaannya tidak bisa dilakukan secara instan mengingat tembakau masih menjadi komoditas utama dengan nilai ekonomi tinggi di Bondowoso.
“Diversifikasi akan dilakukan bertahap, berbasis kajian. Komoditas seperti kopi dan hortikultura kita dorong sebagai tambahan, bukan pengganti. Tujuannya agar petani punya sumber pendapatan lain tanpa melemahkan basis ekonomi tembakau,” pungkasnya. (faq/bud)
Editor : M. Ainul Budi