TAPEN, Radar Ijen - Niat bersilaturahmi di hari raya berubah menjadi kabar duka. Di aliran sungai yang tampak biasa, arus deras menyimpan bahaya yang tak terduga.
Aliran Sungai Sampean Baru tampak seperti hari-hari biasa. Air mengalir, warga beraktivitas, dan beberapa pemuda terlihat mandi di tepian.
Tak ada yang menyangka, siang itu, Senin (23/3), akan berubah menjadi duka. Di tengah riuh orang-orang bersilaturahmi.
Baca Juga: Air Mata Haru di Balik Jeruji, Remisi Jadi Hadiah Lebaran untuk Para Warga Binaan Lapas Bondowoso
RMS, 17 tahun, pemuda asal Kecamatan Sumberwringin, datang ke Desa Tapen untuk bersilaturahmi ke rumah tunangannya.
Sudah dua hari ia berada di desa tersebut, menikmati suasana Lebaran bersama keluarga calon mempelai.
Seperti hari sebelumnya, ia kembali mandi di sungai Sampean Baru bersama tiga orang temannya. Aktivitas yang bagi warga setempat terasa biasa.
Baca Juga: Mudik ke Bondowoso Tak Lengkap Rasanya Bila Tidak Mampir ke Wisata Andalannya Ini
Namun, sekitar pukul 12.00 WIB, situasi berubah. Arus sungai yang deras tiba-tiba menyeret tubuhnya. Ia tak sempat menyelamatkan diri.
Teman-temannya yang berada di lokasi spontan berusaha menolong. Mereka berusaha meraih, mengejar, dan menarik korban dari derasnya aliran air.
Baca Juga: Didukung Puluhan Mitra Penggilingan, Serapan Gabah dari Petani Bondowoso Melejit Sejak Awal Tahun
Namun kekuatan arus lebih besar dari upaya mereka. “Temannya sempat hendak menolong, tetapi tidak mampu karena arus air yang sangat deras,” ungkap Kristianto Putro Prasojo, Kalaksa BPBD Bondowoso.
Panik menyebar. Warga sekitar berdatangan. Pencarian segera dilakukan, melibatkan masyarakat setempat dan pihak terkait.
Hingga akhirnya, sekitar pukul 14.20 WIB, korban ditemukan. Namun harapan itu telah pupus. “Korban ditemukan sudah meninggal dunia,” katanya.
Kepala Desa Tapen, Kusnadi, menyebut korban sebelumnya memang kerap mandi di sungai selama berada di desa tersebut. “Jenazahnya sudah dibawa ke rumah duka,” ujarnya singkat. (ham)
Editor : Ilham Wahyudi