DADAPAN, Radar Ijen - Pagi itu, lapangan Pondok Pesantren Al Ishlah Bondowoso sudah dipenuhi jemaah. Sajadah terbentang rapi, barisan saf tersusun, dan gema takbir mengalun pelan, Jumat (20/3),
Idul Fitri datang lebih awal di tempat itu. Ratusan jemaah dan santri melaksanakan salat Id sejak pukul 06.15 WIB. Suasana khidmat terasa, meski di luar sana sebagian besar umat Muslim masih menjalani hari terakhir Ramadan.
Orang yang datang bukan hanya warga sekitar. Diketahui jemaah Ponpes yang berada di Desa Dadapan, Kecamatan itu, juga berasal dari luar daerah.
“Ada yang dari Sidoarjo, ada juga yang dari Bali. Masyarakat dan santri yang ikut ini datang dari berbagai macam daerah,” ungkap Thoha Yusuf Zakaria, Pimpinan Ponpes Al Ishlah Bondowoso.
Di lingkungan pesantren Al Ishlah, penentuan awal Ramadan dan Syawal dilakukan dengan metode Ru’yat Hilal Global dan Kalender Hijriah Global Tunggal. Sebuah pendekatan yang berbeda dari yang digunakan pemerintah.
Menurut Kiai Thoha, berdasarkan data yang mereka gunakan, hilal telah terlihat di Alaska pada 17 Februari 2026. Dari situlah, awal Ramadan ditetapkan jatuh pada 18 Februari. Perhitungan itu berlanjut hingga akhir bulan.
Baca Juga: Imbauan Soal Takbir Keliling, Begini Kata Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid
Saat memasuki 29 Ramadan, rukyatul hilal kembali dilakukan. Namun hilal tak terlihat. Maka, sesuai kaidah istikmal, jumlah hari puasa disempurnakan menjadi 30 hari.
“Maka kemarin adalah hari ke-30, dan hari ini adalah tanggal 1 Syawal yang bertepatan dengan tanggal 20 Maret,” ujarnya.
Menariknya, menurut Kiai Thoha, prinsip yang digunakan pemerintah sebenarnya tidak jauh berbeda. Ketika hilal tak terlihat, bulan Ramadan juga disempurnakan menjadi 30 hari.
Hanya saja, perbedaan awal penentuan Ramadan membuat waktu Idulfitri ikut bergeser. Di tengah perbedaan itu, suasana di lapangan tetap hangat.
Usai salat, jemaah saling bersalaman. Senyum merekah. Tak ada sekat, hanya kebersamaan dalam keyakinan masing-masing.
Kiai Thoha pun mengingatkan, perbedaan bukan untuk dipertentangkan.
“Kita justru harus menjadikan perbedaan ini sebagai sarana untuk mempererat persatuan dan kesatuan. Perbedaan itu adalah rahmat,” pungkasnya. (ham)
Editor : Ilham Wahyudi