MAESAN, Radar Ijen - Saat sebagian besar umat Muslim masih menunggu penetapan pemerintah, suasana Lebaran justru lebih dulu terasa di sebuah sudut desa. Takbir berkumandang, sajadah terbentang, dan tradisi lama kembali dijalankan.
Pagi itu, Kamis (19/3), suasana di lingkungan Pondok Pesantren Mahfilud Duror sudah dipenuhi gema takbir. Sejumlah warga Bondowoso yang menjadi bagian dari jamaah pesantren tersebut lebih dulu merayakan Idul Fitri 1447 Hijriah.
Di Masjid Mahfilud Duror, Suger Kidul, Kabupaten Jember, saf-saf salat Id telah tertata rapi. Warga datang dengan pakaian terbaiknya. Wajah-wajah sumringah terlihat, menandai hari kemenangan yang datang lebih awal dibandingkan mayoritas umat Muslim lainnya.
Baca Juga: Imbauan Soal Takbir Keliling, Begini Kata Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid
Bagi jamaah Mahfilud Duror, penentuan awal Ramadan dan 1 Syawal tidak mengikuti metode hisab maupun rukyatul hilal, seperti yang digunakan pemerintah.
Mereka berpegang pada kitab klasik yang telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun.
Salah satu santri, Hilmi, menjelaskan bahwa metode tersebut memungkinkan penentuan waktu ibadah bahkan untuk tahun-tahun mendatang.
Baca Juga: Menyalakan Harapan di Rumah Sunyi Ibu Lima, Kapolres Bondowoso Kunjungi dan Berikan Bantuan Langsung
Tahun ini, para santri telah memulai puasa sejak Selasa (17/3), dua hari lebih awal dari ketetapan pemerintah. Tradisi itu sudah lama berjalan dan menjadi bagian dari keseharian di lingkungan pesantren.
“Kami hari ini sekeluarga sudah makan dan minum, karena puasa kami genap 30 hari,” jelas Hilmi,warga Maesan itu.
Ia menyebut, acuan utama yang digunakan adalah kitab Nushatul Majaalis karya Abdurrahman As Shufuri As Syafi’i.
Kitab tersebut telah menjadi pedoman penentuan awal Ramadan di pesantren itu selama kurang lebih 195 tahun.
Metode yang digunakan dikenal sebagai sistem khumasi, yakni perhitungan lima hari. Dalam praktiknya, awal Ramadan tahun berjalan dihitung dengan menambahkan lima hari dari awal puasa pada tahun sebelumnya.
Jika pada 2026 puasa dimulai hari Selasa, maka perhitungan lima hari berikutnya jatuh pada Minggu. Dengan pola tersebut, awal Ramadan tahun berikutnya pun dapat diperkirakan sejak jauh hari.
“Dengan menghitung lima hari dari awal puasa tahun ini, maka Ramadan 2027 diperkirakan dimulai pada hari , dengan durasi puasa tetap 30 hari,” terangnya.
Baca Juga: Warga Bondowoso yang Hendak Mudik Ada Pelayanan Gratis Penitipan Kendaraan di Polres dan Polsek
Meski telah merayakan Idul Fitri lebih awal, Hilmi mengaku tetap akan melaksanakan salat Id bersama masyarakat sekitar yang mayoritas mengikuti keputusan pemerintah.
Bagi para alumni Mahfilud Duror, momentum Lebaran lebih awal ini justru menjadi alasan untuk kembali pulang ke pesantren. Mereka datang ke Suger Kidul, mengikuti salat Id sesuai ketetapan yang telah lama diyakini.
“Di sana, mereka dapat mengikuti pelaksanaan salat sesuai dengan ketetapan pondok pesantren,” pungkasnya. (ham)
Editor : Ilham Wahyudi