TAMANSARI, Radar Ijen - Distribusi LPG subsidi di Bondowoso mulai disorot. Selain lonjakan kebutuhan jelang Lebaran, muncul dugaan penyimpangan penyaluran hingga membuat pemerintah menarik jatah bulan depan untuk menutup kebutuhan saat ini.
Distribusi LPG subsidi di Bondowoso tak hanya menghadapi lonjakan kebutuhan jelang Lebaran. Di balik itu, muncul indikasi penyaluran yang tak sepenuhnya tepat sasaran.
Pemerintah pun mengambil langkah cepat. Salah satunya dengan menarik alokasi LPG bulan depan untuk memenuhi kebutuhan saat ini.
Baca Juga: Pemudik yang Masuk ke Kawasan Kota Bondowoso Harap Waspada! Titik Strategis Sudah Ada CCTV
“Yang jatah bulan depan itu diambil dulu gitu loh. Biar tak panik buying, biar terpenuhi dulu,” ujar Dwi Haryadi, Kabid Perdagangan Diskoperindag Bondowoso.
Langkah ini diambil setelah pemantauan dilakukan di berbagai titik. Mulai dari pasar hingga SPBU, termasuk koordinasi langsung dengan pihak Pertamina wilayah Jember.
Selain pemantauan, pemerintah juga mengajukan penambahan pasokan. “Kita sudah berusaha selain mantau tiap hari, kita juga usaha ke Pertamina. Terus bersurat juga minta tambahan,” ujarnya.
Distribusi LPG di tingkat pangkalan sendiri tidak merata. Setiap pangkalan memiliki pola suplai berbeda, tergantung kebutuhan wilayah.
“Ada yang 100 setiap hari, ada yang 2 hari sekali, ada yang seminggu sekali. Jadi tak sama setiap peran itu,” jelasnya.
Meski pasokan disebut masih relatif terkendali dan bahkan ditambah di beberapa titik, persoalan lain justru mencuat dari laporan masyarakat.
Dugaan penyimpangan distribusi LPG subsidi mulai terendus. LPG yang seharusnya diperuntukkan bagi rumah tangga diduga mengalir ke sektor usaha.
“Kalau dihubungkan informasi dari masyarakat, kemarin ada yang LPG itu disusukan ke UMKM,” ungkapnya.
Jika praktik tersebut benar terjadi, maka berpotensi mengganggu distribusi LPG subsidi di tingkat masyarakat. Karena itu, pengawasan kini diperketat.
Baca Juga: Bupati Bondowoso Sidak BBM hingga Bahan Pokok, Warga Diminta Tenang Stok Diklaim Masih Aman
Pada akhir Januari 2026, Pemkab Bondowoso melalui Bagian Perekonomian mengungkapkan telah mengusulkan tambahan kuota LPG 3 kg kepada Pertamina untuk bulan Februari dan Maret.
Pengajuan tambahan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan, dengan usulan kenaikan hingga dua kali lipat dari alokasi harian di titik-titik tertentu.
Sebelumnya, pada akhir Desember 2025, Pemkab Bondowoso juga telah mengusulkan total kuota LPG 3 kg tahun 2026 sebesar 20.480 metrik ton.
Baca Juga: Update Mudik Bondowoso: Terminal Ramai, Bus Diperiksa Ketat
Jumlah ini meningkat dibandingkan kuota tahun 2025 yang mencapai 18.613 metrik ton. Usulan tersebut setara dengan kebutuhan rata-rata 1.700 metrik ton per bulan untuk memastikan kebutuhan masyarakat Bondowoso terpenuhi sepanjang tahun.
Di lokasi berbeda, seorang agen LPG 3 kg di Bondowoso berinisial O, memprediksi peningkatan konsumsi ini dipicu beberapa faktor. Pertama, memasuki menjelang lebaran Idul Fiyri, kebutuhan gas untuk UMKM takjil meningkat. Kedua, adanya penambahan rumah tangga baru.
Faktor ketiga yang cukup signifikan adalah keterlibatan mitra dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Meskipun operasional utama MBG menggunakan gas non-subsidi, banyak mitra kerjanya seperti pemasok roti, pentol, dan camilan lainnya menggunakan LPG 3 kg.
Hal tersebut dinilai secara otomatis menambah beban pemakaian. "Kalau MBGnya betul sudah pakai yang non subsidi, tapi mitra kerjanya," pungkasnya. (ham)
Editor : Ilham Wahyudi