BINAKAL, Radar Ijen - Langkanya Elpiji 3 kilogram di Bondowoso, bukan sekadar soal keterlambatan truk distribusi. Di balik dapur warga yang dingin, ada aroma permainan stok dan distribusi yang bocor ke tangan-tangan tak berhak.
Di sebuah gang sempit di Desa Poler, Kecamatan Binakal, nyala api kompor di rumah milik FS sudah dua hari tak nampak. Bukan karena ia ingin rehat, melainkan karena tabung hijau 3 kilogram miliknya, sudah kosong melompong tanpa pengganti.
"Saya sudah mutar sampai ke Desa sebelah (Bondowoso), tapi semua toko pasang papan 'Habis'. Kalaupun ada, harganya sudah tidak masuk akal, bisa sampai Rp 24 ribu," ujar perempuan 54 tahun itu dengan nada getir kepada wartawan.
Bondowoso seolah sedang dikepung ironi. Di satu sisi, Pertamina mengklaim pasokan ke agen-agen di wilayah Karesidenan Besuki tetap stabil.
Namun di sisi lain, warga harus beradu cepat layaknya ikut perlombaan hanya untuk mendapatkan satu tabung gas di pangkalan resmi.
Penelusuran di lapangan menunjukkan adanya indikasi rembesnya gas subsidi ke sektor-sektor yang seharusnya diharamkan.
Tak hanya itu, sistem pembelian menggunakan KTP yang awalnya diniatkan sebagai instrumen kontrol, justru kerap menjadi celah birokrasi yang memperlambat arus distribusi ke konsumen akhir.
Selain FS, warga lain, Vafan, warga Kelurahan Dabasah, Bondowoso, juga mengeluh sudah dua hari tak mendapat gas subsidi yang sering disebut gas melon itu.
“Gak tau kenapa gas melon kok akhir akhir ini sulit. Salah keliling ke pangkalan hingga pengecer gak ada semua. Kalaupun ada harganya gak ngotak, bisa tembus Rp 24 ribu,” tuturnya.
Padahal seharusnya Harga Eceran Tertinggi (HET) Gas Melon, hanya Rp 18 ribu per tabung. Oleh sebab itu, Fafan berharap ada tindakan tegas dari pihak terkait.
Di lokasi berbeda, keluhan juga muncul datang dari Rosi, Warga Kecamatan Tenggarang, Bondowoso. Dia mengaku dalam beberapa hari terakhir, sulit mendapatkan gas melon.
Hal itu, membuatnya mencari ke berbagai tempat yang jauh dari tempat tinggalnya. “Kalaupun ada, harganya diatas harga eceran tertinggi semua. Saya heran kenapa bisa begini,” imbuhnya.
Dia juga mengaku heran mengaku gas melon sulit didapatkan. Padahal sebelumnya, dia mengaku melihat informasi disampaikan oleh Pemkab, bahwa stok dan harganya aman.
“Jangan cuma bilang aman, warga kesulitan ini mendapat gas melon. Stok yang katanya aman itu terus kemana,” pungkasnya. (ham)
Editor : Ilham Wahyudi