radar jember - RODA ekonomi warga mendadak tersendat sejak Jembatan Sentong ambrol pada Senin (23/2) sekitar pukul 17.30 WIB.
Warung-warung di sekitar lokasi kini sepi pembeli, distribusi barang melambat, dan ongkos operasional pelaku usaha membengkak.
Akses yang selama ini menjadi urat nadi perdagangan antara Desa Sukowiryo dan Kelurahan Nangkaan terputus, menyisakan keresahan di tingkat ekonomi bawah.
Sejak penutupan total diberlakukan, arus kendaraan yang biasanya melintas di atas bentang 45 meter itu hilang seketika. Konsentrasi pembeli bergeser ke jalur alternatif.
Pedagang kecil yang menggantungkan hidup dari lalu lintas harian kini hanya bisa menunggu tanpa kepastian.
“Sepi pembeli semenjak jembatan ambrol, Pak,” seru seorang warga saat berdialog dengan Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, ketika meninjau lokasi.
Tak hanya pedagang, pengemudi ojek dan angkutan barang turut merasakan dampaknya. Mereka harus memutar hingga tiga kilometer untuk mencapai tujuan.
Tambahan jarak itu berarti tambahan bahan bakar dan waktu tempuh. Dalam sehari, selisih biaya bisa menggerus pendapatan yang sebelumnya sudah pas-pasan.
Salah satu warga Sukowiryo, Nova Praindasti, menyebut kondisi ini memperberat beban rumah tangga.
Ia mengaku pengeluaran transportasi meningkat, sementara pemasukan usaha kecil di lingkungannya justru menurun.
“Kalau mutar bisa tiga kilometer. Padahal ini cuma 45 meter. Aktivitas jelas terganggu,” ujarnya, Rabu (25/2).
Dampak ekonomi itu merembet ke aktivitas pendidikan dan pekerjaan harian. Orang tua harus berangkat lebih pagi mengantar anak sekolah.
Pekerja harian khawatir terlambat tiba di tempat kerja. Keterlambatan kecil bisa berujung pada pemotongan upah.
Warga menilai, kerusakan jembatan bukan sekadar persoalan teknis konstruksi. Bagi mereka, ini soal keberlangsungan pendapatan.
Jika kondisi berlarut, bukan tidak mungkin sebagian usaha kecil gulung tikar karena kehilangan pelanggan tetap.
Kini harapan warga tertuju pada percepatan pembangunan kembali.
Mereka tak sekadar menunggu jembatan berdiri kokoh, tetapi juga berharap denyut ekonomi yang sempat lumpuh bisa kembali normal. Sebab bagi masyarakat kecil, setiap hari tanpa akses berarti potensi pendapatan yang hilang. (faq/bud)
Editor : M. Ainul Budi