KEMBANG, Radar Ijen - Jalan di Desa Kembang, Kecamatan Bondowoso merupakan salah satu jalan alternatif, bagi pengendara dari arah Jember-Bondowoso atau sebaliknya. Namun, kondisi jalan tersebut sempit dan berlubang sehingga banyak dikeluhkan pengendara.
Sony, Warga Desa Pancoran, Kecamatan Bondowoso salah satunya. Dia mengaku harus memutar lebih jauh, pasca penutupan Jembatan Sentong. Oleh sebab itu, dia berharap pemerintah dan pihak terkait lainnya, membuat jalur alternatif yang lebih baik.
“Seharusnya dibuatkan jalur alternatif di sekitar jembatan, agar tidak memutar terlalu jauh,” katanya.
Jika memutar melewati Pasar Nangkaan kemudian tembus di Desa Kembang, membutuhkan waktu kurang lebih 10 hingga 15 menit jika kondisi lalu lintas normal.
Sementara jika kondisi lalu lintas macet, misalnya pada saat jam berangkat sekolah, maka waktu tempuhnya lebih lama, bahkan mencapai 20 menit. “Kasihan anak sekolah kalau harus memutar lebih jauh. Mau berangkat jam berapa mereka itu,” imbuhnya.
Keluhan yang sama juga dikatakan oleh Alif, Warga Kelurahan Badean, Bondowoso.
Dia juga mengaku resah karena harus memutar lebih jauh. Apalagi kondisi jalannya sempit dan berlubang. “Kalau ada mobil salipan, pasti tersendat sudah lalu lintas itu,” ucapnya.
Jika dalam kondisi hujan, jalan alternatif itu berlumpur. Sementara jika kering, maka banyak debu yang beterbangan. Kondisi tersebut, dianggap membuat para pengendara tidak nyaman.
“Pas lewat sana tadi, sempat kelilipan,” tuturnya.
Penutupan Jembatan Sentong, juga berdampak pada toko dan usaha yang ada di selatan jembatan. Kondisinya jauh lebih sepi dibandingkan sebelumnya. Salah satunya SPBU Kembang yang terlihat lebih sepi dari biasanya.
“Sepi pol, bakal lama kayaknya ini,” ucap MK, salah seorang pegawai SPBU tersebut. (ham/BUD)
Editor : M. Ainul Budi