Radar Ijen - Ambrolnya Jembatan Sentong di Desa Nangkaan, Kecamatan/Kabupaten Bondowoso, memaksa Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengambil langkah percepatan pembangunan ulang.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, turun langsung ke lokasi untuk memastikan warga mendapat penjelasan terbuka sekaligus menegaskan bahwa penutupan total tidak bisa ditawar demi keselamatan.
Di hadapan warga, Emil menyatakan jembatan lama memang sudah rapuh karena usia yang diperkirakan lebih dari satu abad.
“Kondisi ini membuktikan bahwa jembatan tersebut memang sudah tidak layak. Demi keselamatan masyarakat, tidak ada pilihan lain selain membangun ulang dengan spesifikasi yang lebih kuat,” ujarnya.
Ia menegaskan, pemerintah provinsi telah lebih dulu menyiapkan perencanaan sehingga kini tinggal mempercepat proses kontrak dan pelaksanaan.
Pembangunan ulang akan menggunakan balok girder dengan lebar jembatan diperluas dari sembilan meter menjadi empat belas meter. Menurut Emil, desain tersebut bukan sekadar mengganti yang rusak, melainkan meningkatkan kapasitas dan daya tahan konstruksi untuk jangka panjang.
“Kami tidak ingin hanya menambal masalah. Kita ingin menghadirkan jembatan yang kokoh dan bisa dimanfaatkan hingga puluhan tahun, bahkan satu abad ke depan,” tegasnya.
Ia juga menolak usulan pembangunan jembatan darurat dari bambu di sisi lokasi. Selain berbahaya, area sekitar akan terdampak pekerjaan pelebaran dan penggalian.
“Bahkan untuk pejalan kaki pun tidak memungkinkan. Saat proses konstruksi berjalan, keselamatan harus menjadi prioritas. Karena itu akses harus ditutup total,” katanya.
Semula proyek direncanakan mulai April dengan asumsi jembatan masih dapat dilalui hingga saat itu. Namun situasi terkini memaksa percepatan agar beban masyarakat tidak berlarut. Emil menyebut pihaknya tengah mempercepat penandatanganan kontrak dan menargetkan pekerjaan bisa dimulai pada bulan Ramadan.
“Kita percepat prosesnya, tetapi tidak boleh mengorbankan mutu. Pembangunan jembatan membutuhkan presisi tinggi,” jelasnya.
Anggaran sebesar Rp17,5 miliar telah disiapkan untuk proyek ini dengan estimasi pengerjaan sekitar delapan bulan. Emil mengakui ada pengorbanan sementara yang harus ditanggung warga selama masa penutupan.
“Kami memahami ada kesulitan. Tapi pengorbanan delapan bulan ini akan terbayar dengan jembatan yang lebih lebar, lebih aman, dan jauh lebih kuat,” pungkasnya.
Disisi Bondowoso, Bupati Abdul Hamid Wahid, mengatakan pihaknya baru menerima informasi bahwa pelaksanaan tidak lagi menunggu April.
“Kami baru saja mendapat kabar bahwa jadwal dimajukan karena adanya kejadian luar biasa di luar perencanaan,” ujarnya.
Ia menyebut penandatanganan kontrak kemungkinan dilakukan setelah Jumat pekan ini. Jika kontrak telah diteken, pekerjaan awal dapat segera dimulai sehingga masa pengerjaan tidak lagi dihitung mulai April, melainkan sejak kontrak berjalan.
Menurutnya, langkah ini otomatis mempercepat target penyelesaian. Dengan estimasi waktu pengerjaan sekitar delapan bulan, proyek diharapkan selesai lebih cepat dibanding rencana awal apabila seluruh tahapan berjalan lancar. (faq/bud)
Editor : M. Ainul Budi