TEGALAMPEL, Radar Ijen - Konflik internal yang sempat berujung pada penutupan Masjid Nurul Iman di Kecamatan Tegalampel, akhirnya menemui titik terang.
Rumah ibadah yang sebelumnya digembok dan dipagari akibat perselisihan keluarga itu kini resmi kembali dibuka dan diserahkan pengelolaannya kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Keputusan tersebut diambil melalui musyawarah bersama unsur pemerintah desa, tokoh masyarakat, serta organisasi keagamaan.
Secara teknis, operasional masjid akan dikendalikan MWCNU Tegalampel bersama pengurus ranting setempat agar aktivitas ibadah kembali berjalan normal dan kondusif.
Ketua MWCNU Tegalampel, Haryono, menegaskan pembukaan kembali akses masjid dilakukan segera setelah tercapai kesepakatan.
Ia memastikan masjid tidak boleh lagi menjadi dampak dari persoalan pribadi yang seharusnya diselesaikan secara internal. “Mulai sekarang masjid harus kembali menjadi milik umat dan tidak boleh lagi ditutup karena konflik pribadi,” ujarnya.
Menurutnya, langkah cepat yang diambil adalah membentuk kepengurusan atau takmir baru yang bersifat netral. Figur-figur yang ditunjuk dipastikan tidak terlibat dalam konflik sebelumnya agar kepercayaan masyarakat bisa pulih.
“Kita sesegera mungkin membentuk takmir dari orang-orang netral supaya kegiatan ibadah bisa langsung berjalan,” tegasnya.
Haryono juga menyampaikan, secara kelembagaan pengelolaan masjid kini berada langsung di bawah naungan PBNU.
Skema ini dinilai lebih kuat dan minim potensi gesekan karena tidak lagi berbasis perorangan. “Kalau di bawah organisasi, insyaallah lebih netral dan tidak mudah diseret konflik keluarga,” katanya.
Ia menambahkan, pembentukan takmir tidak perlu menunggu keputusan formal dari pusat selama aktivitas masjid dapat segera dipulihkan.
Prioritas utama adalah memastikan jamaah kembali dapat beribadah dengan tenang. “Yang penting masjid aktif dulu, urusan administrasi bisa menyusul,” imbuhnya.
Dengan rampungnya proses mediasi, suasana di sekitar masjid kembali kondusif. Warga menyambut baik keputusan tersebut dan berharap Masjid Nurul Iman benar-benar menjadi pusat ibadah serta pemersatu masyarakat. Setelah sempat menjadi simbol ketegangan, kini masjid itu kembali ke khitahnya. (faq/bud)
Editor : M. Ainul Budi