Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kekayaan Megalitikum Bondowoso Paling Lengkap se-Indonesia, Disebut Emas Peradaban di Tanah Ijen

Faqih Humaini • Kamis, 19 Februari 2026 | 21:05 WIB

 

MERAWAT: Hery Kusdaryanto dan tim saat meninjau situs Kodedek di Kecamatan Maesan beberapa waktu lalu.
MERAWAT: Hery Kusdaryanto dan tim saat meninjau situs Kodedek di Kecamatan Maesan beberapa waktu lalu.
 

BADEAN, Radar Ijen - Kekayaan tinggalan megalitikum di Bondowoso kembali disorot sebagai identitas peradaban tua yang belum sepenuhnya tergarap optimal.

Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) menilai daerah ini menyimpan jejak budaya prasejarah yang sangat lengkap, mulai dari situs ritual hingga permukiman kuno yang tersebar di berbagai desa.

Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Bondowoso, Hery Kusdaryanto, menyebut Bondowoso sebagai emas peradaban yang nilainya sangat tinggi secara historis dan arkeologis.

"Kekayaan ini menunjukkan bahwa wilayah Bondowoso telah dihuni masyarakat dengan sistem kepercayaan dan struktur sosial yang maju sejak ribuan tahun lalu," katanya.

Ia mengungkapkan, catatan penelitian sejak 1898 oleh peneliti Belanda telah menempatkan Bondowoso sebagai salah satu kawasan dengan tinggalan megalitik terlengkap di Indonesia.

Variasi peninggalannya mencakup menhir, dolmen, kubur batu, sarkofagus, hingga batu-batu ritual yang memiliki fungsi berbeda dalam kehidupan masyarakat purba.

“Variasinya luar biasa, mulai dari situs pemujaan, penguburan, hingga permukiman. Kita tua secara peradaban, dan ketuaan itu harus lestari untuk anak cucu,” ujarnya.

Plt Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata, Budaya, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso iru menegaskan bahwa nilai penting tinggalan tersebut bukan hanya pada bentuk fisiknya, tetapi juga pada makna spiritual dan sosial yang menyertainya.

Sebaran situs yang luas menunjukkan bahwa peradaban megalitik di Bondowoso tidak terpusat pada satu lokasi, melainkan berkembang dalam jaringan komunitas kuno.

Hal ini memperkuat dugaan bahwa wilayah tersebut pernah menjadi pusat aktivitas budaya yang signifikan pada masanya.

Untuk menjaga kelestarian, revitalisasi sederhana dilakukan di sejumlah desa melalui konsep museum terbuka berbasis masyarakat.

Batu-batu megalitik dibersihkan, ditata, dan dilengkapi informasi dasar agar mudah dipahami pengunjung tanpa mengubah keaslian situs.

Langkah tersebut dinilai mampu memberikan manfaat ganda, yakni melindungi cagar budaya sekaligus membuka peluang ekonomi lokal.

Situs megalitik dapat menjadi destinasi wisata edukatif yang terintegrasi dengan kesenian tradisional dan kuliner khas, sehingga warisan leluhur tetap hidup dan memberi nilai bagi generasi masa kini. (faq/bud)

 

Editor : M. Ainul Budi
#tim ahli #megalitikum #Kubur Batu Megalitikum #menhir #purba #dolmen #Ijen #Bondowoso #cagar budaya