DABASAH, Radar Ijen - Sebanyak 1.774 pelajar sekolah dasar dan sederajat, menari Totta’an Dhereh secara serentak di Alun-alun RBA Ki Ronggo, Sabtu (14/2).
Meski diguyur hujan, mereka tetap kompak menuntaskan tarian selama hampir 15 menit.
Para siswa mengenakan jarik cokelat, selendang merah, manset putih, serta mahkota berbentuk sayap burung. Gerakan serempak mereka memeriahkan jantung kota.
Penampilan tersebut tak jarang membuat setiap pasang mata pengunjung Alun-alun terpana.
Alfidiansyah Kezya Ardian, siswa SDN Dabasah 3 Bondowoso, mengaku berlatih sekitar sembilan hari di sekolahnya. “Sembilan hari saya belajar di sekolah,” ujarnya.
Sementara Anugrah Dwiandra, siswa SD Alifiyah Bondowoso, mengaku hanya berlatih dua hari. “Saya belajar dua hari di sekolah,” terangnya malu-malu.
Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso Taufan Restuanto mengatakan kegiatan tersebut merupakan implementasi gerakan “Ini Budi” atau Ini Anak Indonesia Belajar Budaya Sejak Dini.
Ke depan, sekolah diberi keleluasaan memilih seni lokal sebagai kegiatan kokurikuler.
“Masing-masing gugus silahkan memilih. Gugus satu ini memilih Totta’an Dhereh. Ada yang tari Molong Kopi juga,” ujarnya.
Sekretaris Daerah Bondowoso Fathur Rozi menegaskan pengenalan budaya lokal sejak dini penting agar generasi muda tidak tergerus budaya luar.
“Karena lokalitas bagian dari bangsa ini, sehingga anak-anak tidak tergerus dari kulturnya, dari budayanya dari budaya luar yang masuk,” tuturnya.
Totta’an Dhereh sendiri merupakan tradisi lokal Bondowoso, yang terinspirasi dari budaya memelihara merpati aduan yang dilepas dan berlomba kembali ke kandang tercepat. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi