RADAR JEMBER - Menjelang Ramadan, langit Bondowoso tak hanya dipantau untuk mencari hilal. Hati masyarakat pun diuji. Perbedaan awal puasa kembali menjadi perbincangan.
Namun Kementerian Agama mengingatkan, yang boleh berbeda adalah tanggalnya, bukan persaudaraannya.
Menjelang penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah, Kepala Kantor Kementerian Agama Bondowoso, M Ali Masyhur, mengimbau masyarakat tetap menjaga toleransi jika terjadi perbedaan dalam penentuan awal puasa.
Menurutnya, dinamika perbedaan bukan hal baru dalam tradisi keislaman di Indonesia. Perbedaan metode hisab dan rukyat telah lama menjadi bagian dari khazanah fiqih.
"Saya berharap, semua masyarakat agar dapat menghormati perbedaan dalam penetapan awal Ramadan," katanya.
Pria yang akrab disapa Cak Ali itu menegaskan, perbedaan jangan sampai berubah menjadi gesekan sosial. Justru sebaliknya, momentum ini harus memperkuat sikap saling menghargai.
"Memperkuat sikap saling menghargai satu sama lain," ujarnya.
Kemenag Bondowoso tetap akan melaksanakan rukyatul hilal pada sore hari. Pemantauan hilal dijadwalkan berlangsung di kawasan Masjid At-Taqwa sebagai bagian dari proses resmi penentuan awal Ramadan.
Secara nasional, pemerintah menetapkan awal Ramadan melalui sidang isbat yang melibatkan berbagai organisasi kemasyarakatan Islam. Keputusan tersebut menjadi pedoman resmi yang diumumkan kepada publik.
Setiap menjelang Ramadan, perbedaan awal puasa hampir selalu menjadi topik hangat. Namun Ali menilai, kedewasaan umat justru terlihat dari cara menyikapi perbedaan tersebut.
Baginya, Ramadan adalah bulan persatuan, bulan memperbaiki hubungan, bukan sebaliknya. “Jangan sampai semangat ibadah ternodai oleh perdebatan yang tak perlu,” pungkasnya. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi