RADAR IJEN – Hingga saat ini satu-satunya moda transportasi yang menjangkau ke Kabupaten Bondowoso adalah dari jalur darat. Yakni hanya melalui jalan nasional atau provinsi. Baik dari arah Jember maupun Situbondo.
Selain itu, satu-satunya fasilitas public transportasi umum yang masih aktif adalah terminal.
Itu pun armada bus yang dari atau menuju Bondowoso tak sesering rute Jember maupun Banyuwangi.
Hanya satu harapan publik Bondowoso bisa merasakan transportasi publik selain bus. Yaitu bangkitnya Kereta Api yang lama mati suri di rel Jember – Situbondo, melewati Bondowoso serta Panarukan.
Harapan itu masih ada. Rencana progresnya pun terus berjalan. Tetapi dalam kenyataannya masih jauh. Tak dalam waktu dekat 2026 ini atau dua tahun mendatang. Namun, bisa jadi baru mulai sosialisasi kepada masyarakat mengenai penggusuran aset dan sebagainya akan digelar 2029 atau bahkan 2030.
Sebelumnya, rombongan DPRD Bondowoso mengambil langkah politik untuk mendorong reaktivasi Jalur Kereta Api Kalisat Bondowoso Panarukan. Komisi III DPRD Bondowoso menilai kebutuhan transportasi massal berbasis rel sudah semakin mendesak.
Menurut Ketua komisi III DPRD Bondowoso, Sutriyono, kondisi jalan nasional dan jalan provinsi di Bondowoso kini semakin padat, terutama pada jam-jam sibuk.
Hal itu menjadi indikator bahwa alternatif transportasi publik perlu segera dipersiapkan.
“Bukan hanya soal pariwisata dan integrasi antarmoda. Saat ini, di jam-jam sibuk jalan nasional dan jalan provinsi kami mulai ramai,” ujarnya.
Ia menyambut baik komitmen BTP Surabaya yang telah menyelesaikan Survei Identifikasi Desain (SID). Namun menurutnya, peran pemerintah daerah tidak boleh pasif. DPRD siap mendorong agar studi awal dan dukungan kebijakan segera dipersiapkan.
Sutriyono menilai, kebangkitan jalur KA bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan kebutuhan riil masyarakat.
Baca Juga: Jalur Kalisat–Bondowoso Masih Penuh PR Untuk Reaktivasi KAI, Harus Kaji Aspek Resiko Sosial
Apalagi, dengan berkembangnya sektor pendidikan seperti berdirinya kampus Universitas Jember di Bondowoso, mobilitas mahasiswa dan tenaga pengajar akan meningkat signifikan.
Cak Sutry begitu sapaan akrabnya juga mengakui bahwa satu-satunya moda transportasi yang bisa dikembangkan adalah kereta api. Ia tak menampik, bahwa kabupaten tetangga sudah mulai bergeliat mengenai moda transportasi.
Jember dengan aktifnya membuka dua rute penerbangan pesawat, stasiun kereta pun juga masih jadi transportasi favorit. Termina Tawangalun pun sudah di renovasi total.
Situbondo, juga mulai bergeliat dengan adanya tol Prosiwangi (Probolinggo – Situbondo – Banyuwangi). Belum lagi bakal ada bandara Militer. Banyuwangi tak perlu ditanya. Stasiun, Pelabuhan, bandara internasional, terminal pun lengkap.
Kini Bondowoso pun mulai memikirkan moda transportasi masal yang realistis. Namun meski begitu, tantangan progress ini bukan tanpa masalah.
Sebab, informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Ijen, proyek reaktivasi ini memang sudah berprogres ke Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya. Tetapi, faktanya, pihak BTP belum bisa menjamin kapan mereka bisa langsung tancap gas tahun berapa serta anggaran dari mana?.
Perencanaan sudah matang, namun anggaran masih jadi masalah besar. Tak sedikit, anggaran reaktivasi bisa mencapai ratusan miliar. Selain itu, pihak mana yang akan memikul anggaran besar tersebut. Sutryono sempat menyeletuk soal anggaran.
“Memang sudah ada rencananya ini semua. Tapi belum ada duitnya. Skema anggarannya bisa melalui operator dari PT KAI,” jelas dia. (faq/bud)
Editor : M. Ainul Budi