Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Soal Ijen Geopark di Bondowoso Tak Cukup Meliputi Alam Saja, Seni dan Budaya Jadi Kunci Keberlanjutan

Faqih Humaini • Selasa, 10 Februari 2026 | 10:11 WIB
DI PUNCAK: Pergelaran Singo Ulung di Puncak Megasari, Ijen, beberapa hari lalu. Penampilan itu dilakukan di dinding kaldera Ijen Purba.
DI PUNCAK: Pergelaran Singo Ulung di Puncak Megasari, Ijen, beberapa hari lalu. Penampilan itu dilakukan di dinding kaldera Ijen Purba.

RADAR JEMBER - DPRD Bondowoso menegaskan bahwa keberadaan Ijen UNESCO Global Geopark tidak akan bermakna tanpa penguatan seni dan kebudayaan lokal.

Menurutnya, konsep geopark sejak awal dirancang bukan hanya menjaga bentang alam, tetapi juga memastikan tradisi, seni, dan identitas budaya tetap lestari demi kesejahteraan masyarakat.

Wakil Ketua DPRD Bondowoso, Sinung Sudrajad menyampaikan, dalam kerangka UNESCO Global Geopark terdapat prinsip utama “alam lestari, budaya hidup, rakyat sejahtera”.

Karena itu, pelestarian alam tanpa diiringi pemajuan kebudayaan justru berpotensi menjauhkan masyarakat dari manfaat geopark. “Kalau alamnya dijaga tapi budayanya mati, rakyat tidak akan sejahtera,” tegasnya.

Ia mencontohkan Banyuwangi sebagai mitra Bondowoso dalam kawasan Ijen UNESCO Global Geopark yang dinilai berhasil memosisikan seni dan budaya sebagai penggerak utama.

Kebijakan daerah di Banyuwangi, kata Sinung, mampu memberi ruang dan manfaat ekonomi nyata bagi pelaku seni tradisi.

Kondisi tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi Bondowoso dalam memperkuat ekosistem kebudayaan.

Menurut Sinung, secara historis Bondowoso memiliki modal budaya yang tidak kalah kuat. Mulai dari seni tradisi, ritus masyarakat, hingga kearifan lokal yang tumbuh di kawasan warisan geologi purba. Potensi tersebut seharusnya menjadi bagian integral dari pembangunan berwawasan geopark, bukan sekadar pelengkap sektor pariwisata.

Namun ia menyoroti persoalan tata kelola geopark di Bondowoso yang dinilai belum sepenuhnya mendukung pemajuan seni dan kebudayaan.

Perubahan kelembagaan Pengurus Harian Ijen Geopark (PHIG) yang tidak lagi melekat pada badan perencanaan daerah dinilai berdampak pada lemahnya integrasi kebudayaan dalam perencanaan pembangunan.

Sinung menekankan, geopark merupakan model pembangunan lintas sektor yang melibatkan banyak kementerian dan lembaga, sehingga pendekatan kebudayaan harus dirancang secara terencana dan berkelanjutan.

Penguatan peran perencana daerah dinilai penting agar seni dan budaya tidak terpinggirkan oleh kepentingan sektoral jangka pendek.

Dia juga  mengingatkan pentingnya menjaga ruang kebudayaan dari intervensi politik praktis yang terlalu dini.

Menurutnya, pelaku seni, budayawan, dan tenaga profesional harus diberi ruang utama dalam pengelolaan geopark.

“Seni dan budaya harus hidup dulu. Kalau itu kuat, geopark akan bertahan, dan kesejahteraan rakyat akan mengikuti,” pungkasnya. (faq/bud)

 

Editor : M. Ainul Budi
#Ijen Geopark #DPRD #UNESCO #Bondowoso