Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

ICD 2026 Dorong Desa di Bondowoso Naik Kelas, Bupati Harap Solusi Nyata dari Kampus

Faqih Humaini • Kamis, 5 Februari 2026 | 18:58 WIB
MENYEPAKATI: Sejumlah pihak saat menjalin kerja sama dalam forum IDC (Kominfo Bondowoso/RJ
MENYEPAKATI: Sejumlah pihak saat menjalin kerja sama dalam forum IDC (Kominfo Bondowoso/RJ

BONDOWOSO, Radar Jember -  Program International Community Development (ICD) 2026 diharapkan menjadi pemicu lahirnya solusi nyata bagi persoalan desa di Kabupaten Bondowoso.

Melalui kolaborasi akademik lintas negara, pemerintah daerah menargetkan penguatan tata kelola desa, kemandirian pangan, hingga promosi potensi lokal ke level global.

Harapan tersebut disampaikan Bupati Bondowoso, Abd Hamid Wahid, saat membuka kegiatan ICD 2026 yang digelar Universitas Negeri Surabaya (UNESA) di Pendopo Raden Bagus Asra, Kamis (5/2/2026).

Kegiatan ini diikuti sivitas akademika UNESA, narasumber nasional, serta mahasiswa internasional dari berbagai negara dengan dukungan pendanaan EQUITY-LPDP.

Dalam sambutannya, Bupati Hamid mengapresiasi kepercayaan UNESA yang menjadikan Bondowoso sebagai mitra strategis program ICD.

Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi dalam pembangunan desa merupakan wujud konkret implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang berdampak langsung bagi masyarakat.

“Bondowoso sangat terbuka untuk kolaborasi akademik. Kami berharap kehadiran para akademisi dan mahasiswa internasional tidak berhenti pada kajian, tetapi menghasilkan solusi aplikatif yang bisa dirasakan masyarakat desa,” ujarnya.

Ia menegaskan, Bondowoso memiliki modal besar sebagai laboratorium pembangunan berbasis desa.

Selain dikenal sebagai bagian dari Ijen UNESCO Global Geopark dengan fenomena Blue Fire Kawah Ijen, daerah ini juga kaya bentang alam pegunungan, situs megalitikum, serta keanekaragaman hayati dan budaya.

Bupati Hamid juga menyoroti sektor pertanian sebagai fondasi utama ekonomi daerah.

Komoditas unggulan seperti Kopi Arabika Ijen Raung yang telah mengantongi Sertifikat Indikasi Geografis (IG) melalui branding Bondowoso Republik Kopi disebutnya sebagai contoh keberhasilan pengembangan ekonomi desa berbasis potensi lokal.

“Pertanian, perkebunan, hingga peternakan adalah sumber penghidupan utama masyarakat desa. Kemandirian pangan harus dimulai dari penguatan petani dan tata kelola desa yang akuntabel,” tegasnya.

Selain itu, pemerintah daerah mendorong peningkatan literasi digital generasi muda desa agar mampu mempromosikan potensi lokal melalui teknologi tanpa meninggalkan nilai budaya.

Menurutnya, pemuda desa harus menjadi aktor utama pembangunan yang adaptif terhadap perubahan global.

“Teknologi harus memperkuat ekonomi pedesaan, bukan menggerus jati diri lokal,” tandasnya.

Melalui ICD 2026, Bupati menitipkan harapan agar terjadi transfer pengetahuan yang berkelanjutan, lahir inovasi berbasis kebutuhan riil desa, serta peran mahasiswa internasional sebagai duta promosi Bondowoso di kancah dunia.

Menutup sambutannya, mantan Rektor UNUJA itu mengajak seluruh peserta menikmati potensi wisata Bondowoso, mulai dari Blue Fire Kawah Ijen, Kawah Wurung, hingga keramahan masyarakat lokal.

Ia berharap ICD 2026 menjadi titik awal kolaborasi jangka panjang antara Bondowoso dan komunitas akademik internasional. (faq)

Editor : M. Ainul Budi
#Pemkab Bondowoso #bupati bondowoso #Abdul Hamid Wahid #unesa #Bondowoso