GRUJUGAN, Radar Ijen - Presiden Prabowo Subianto lantang mendorong Gerakan Nasional penggunaan genteng di Indonesia yang disebut Gentengisasi. Namun, di Bondowoso banyak gerai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang baru berdiri masih menggunakan seng atau spandek.
Atap seng dinilai panas, mudah berkarat, dan tak sedap dipandang.
Genteng diposisikan sebagai simbol kerapian dan estetika wajah Indonesia. Namun di lapangan, semangat itu justru berhadap-hadapan dengan realitas pembangunan.
Di Bondowoso, salah satu gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) yang telah rampung dibangun justru beratap seng.
Bangunan yang berdiri di jalur strategis Jalan Raya Jember–Bondowoso itu, menggunakan spandek berwarna merah.
Pilihan material tersebut memunculkan ironi, mengingat KDMP digadang sebagai ujung tombak produksi dalam program nasional tersebut.
Bagi pengusaha genteng lokal, kondisi ini menjadi pukulan telak.
Salah satunya DS, pemilik usaha genteng di Desa Kalianyar. Dia mengaku telah berharap KDMP bisa menjadi pasar bagi produk lokal. Namun harapan itu pupus.
“Tidak ada mas (KDMP yang menggunakan genteng, red), menggunakan spandek,” katanya.
Padahal, menurut DS, jika proyek pemerintah mau beralih ke genteng, roda ekonomi pengrajin lokal bisa ikut bergerak.
Harga genteng produksinya relatif terjangkau, Rp 800 ribu per 1.000 buah, dengan catatan pembeli membawa angkutan sendiri. Jika diantar, ada tambahan ongkos kirim.
Di sisi lain, biaya produksi terus membengkak. Harga tanah liat kini mencapai Rp 120 ribu per pikap. Satu pikap paling jadi 800 genteng. Kayu bakar menembus Rp 600 ribu per pikap untuk sekali bakar 6.000 genteng. Ditambah sekam senilai Rp 450 ribu.
Total biaya produksi per pembakaran tembus lebih dari Rp 3 juta. “Jadi mepet hasilnya mas,” imbuhnya. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi