CURAHDAMI, Radar Ijen – Dari kebun genjer hingga eco-brick, SDN Sumbersuko 1 tak sekadar mengajarkan pelajaran di kelas. Sekolah dasar di Kecamatan Curahdami ini menjadikan kepedulian lingkungan sebagai bagian dari budaya harian.
Konsistensi itulah yang mengantarkan sekolah ini meraih piagam Sekolah Adiwiyata tingkat Kabupaten dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bondowoso.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Plt Kepala DLH Bondowoso, Aris Agung Sungkowo, kepada Kepala Sekolah SDN Sumbersuko 1, Septiana, Selasa (27/1).
Bagi Septiana, penghargaan itu adalah buah dari proses panjang. Ia menegaskan, gerakan peduli lingkungan sudah lama diterapkan, tidak hanya lewat pembelajaran formal, tetapi juga melalui program nyata yang melibatkan siswa, guru, hingga orang tua.
Di halaman sekolah, tumbuh kebun Toga, lahan genjer, kebun markisa, hingga greenhouse. Semua dikelola bersama, dan hasilnya dimanfaatkan langsung oleh warga sekolah.
"Ini dikelola dan hasilnya bisa dimanfaatkan oleh seluruh warga sekolah," ungkapnya.
Hasil panen tidak berhenti di kebun. Genjer diolah menjadi Minuman Sari Genjer (MSG), markisa menjadi sari markisa sehat (SMS), sementara limbah buah dan sayur disulap menjadi pupuk organik cair.
"Jadi hasil panen kita buat jadi minuman. Kemudian, limbahnya kita juga buat POC," terangnya.
Kepedulian lingkungan juga diajarkan sejak dini melalui program Stik Asik, singkatan dari sekolah cantik tanpa sampah plastik.
Lewat program ini, siswa diajak mengolah sampah plastik menjadi ecobrick. "Jadi kami ajari mereka juga buat Ecobrick," ujarnya.
Tak hanya warga sekolah, wali murid pun dilibatkan melalui program Lingkar Jari (lingkungan asri, hijau, dan berseri). Setiap bulan, orang tua siswa diajak kerja bakti membersihkan dan merawat lingkungan sekolah.
Dengan cara itu, gerakan peduli lingkungan tak berhenti di pagar sekolah, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan bersama. "Semuanya jadi turut terlibat menjaga lingkungan di sekolah," tandasnya. (ham)
Editor : M. Ainul Budi