RADAR JEMBER – Warga Dusun Krajan, Desa Sumberanyar, Kecamatan Maesan, terpaksa memperbaiki jalan lingkungan secara swadaya, setelah rusak bertahun-tahun tanpa perhatian pemerintah.
Jalan itu rusak sejak 2019 dan makin parah hingga akhirnya tak bisa dilalui akibat banjir pada 2026.
Kerusakan paving dan hancurnya gorong-gorong membuat jalan licin dan berbahaya. Warga pun bersepakat patungan bahan bangunan.
Total 13 sak semen, pasir, dan tiga tempolong disumbangkan warga. Pengerjaan dilakukan secara mandiri oleh kurang lebih 15 orang.
“Awalnya masih bisa dilewati, tapi lama-lama makin rusak. Puncaknya tahun 2026 ini, jalan tidak bisa diakses karena rusak total akibat banjir,” ujar Baeni, warga setempat.
Tak hanya di tempat tersebut, Warga Desa Kecamatan Tlogosari bergotong royong memperbaiki jembatan penghubung empat desa yang rusak akibat banjir bandang Desember 2024.
Jembatan itu menjadi akses vital warga Desa Pakisan menuju Desa Sulek, Jebung Kidul, dan Tlogosari.
Sempat menggunakan jembatan darurat dari bambu, warga akhirnya berinisiatif swadaya karena kondisi bambu mulai lapuk.
Selama hampir 10 hari, warga menggalang dana keliling membawa kotak amal dan berhasil mengumpulkan hampir Rp7 juta. Sebanyak 60 KK juga iuran Rp100 ribu–Rp300 ribu per keluarga.
“Penggalangan dana sudah jalan 10 hari, kalau proses perbaikan jembatan ini sudah hampir satu bulan,” ujar Mumammad, warga setempat.
Perbaikan dilakukan setiap hari oleh warga Dusun Sempolan sisi timur, sementara para perempuan membantu mengumpulkan donasi. Jembatan ini menjadi jalur utama anak-anak menuju sekolah dan akses terdekat antardesa.
Warga mengaku sempat menunggu perbaikan dari pemerintah desa, namun Dana Desa 2026 disebut terpangkas.
“Awalnya kami tunggu-tunggu perbaikannya, katanya bulan April 2026. Ternyata karena DD habis, ya akhirnya kami bergerak sendiri,” katanya.
Tak jauh dari lokasi, warga RT 21 RW 05 juga membangun jembatan secara swadaya demi keselamatan.
Jembatan setinggi 9 meter dan panjang 30 meter itu dibangun dengan iuran warga Rp100 ribu hingga Rp 250 ribu per orang. Hingga kini, dana terkumpul sekitar Rp10 juta.
Plt Kepala Dinas BSBK Bondowoso, Anshori, mengatakan jembatan tersebut merupakan aset desa sehingga bukan kewenangan kabupaten.
“Kami tidak bisa menganggarkan perbaikan di sana karena itu merupakan aset desa, meski kerusakannya akibat faktor bencana alam,” jelasnya. (ham/fid)
Editor : Adeapryanis