Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Harga Kopi di Bondowoso Melonjak, Pengusaha Terancam Tekor

Ilham Wahyudi • Senin, 19 Januari 2026 | 16:34 WIB

DRASTIS: Salah seorang warga melihat proses pengeringan biji kopi di Bondowoso beberapa waktu lalu.(ILHAM WAHYUDI/RADAR IJEN)
DRASTIS: Salah seorang warga melihat proses pengeringan biji kopi di Bondowoso beberapa waktu lalu.(ILHAM WAHYUDI/RADAR IJEN)

RADAR JEMBER - Kenaikan harga kopi kembali terjadi di Bondowoso.

Dalam dua bulan terakhir, harga kopi melonjak tajam, jauh di atas pola kenaikan tahunan yang selama ini dianggap wajar oleh para pelaku usaha.

Hal tersebut membuat sejumlah pengusaha kopi tertekan.

Untuk kopi arabika green bean, harga kini menembus Rp 165 ribu hingga Rp 170 ribu per kilogram.

Padahal, pada kondisi normal, harga pembelian pengusaha hanya berkisar Rp 120 ribu per kilogram.

Lonjakan serupa juga terjadi pada kopi robusta.

Saat ini, robusta diperdagangkan di kisaran Rp 65 ribu hingga Rp 80 ribu per kilogram, setelah sebelumnya naik bertahap dari Rp 40 ribu, Rp 50 ribu, hingga Rp 60 ribu.

Kenaikan harga ini dipicu oleh menipisnya stok kopi di tingkat petani.

Sebagian petani bahkan dilaporkan sudah kehabisan hasil panen karena terserap pasar lebih awal.

Kondisi tersebut membuat mekanisme pasar berjalan ekstrem.

Ketika pasokan semakin sedikit, harga pun terkerek naik tajam.

Owner Kopi Bulan Madu, Muhlis menyebut kenaikan kali ini tergolong tidak normal. Selama ini, fluktuasi harga kopi hanya berkisar Rp 10 ribuan.

Namun, kali ini lonjakan mencapai Rp 40 ribu per kilogram.

"Karena stoknya kan tipis juga di petani. Ya cuaca juga mempengaruhi, cuma bukan satu-satunya faktor. Tapi karena stoknya tipis memang," jelas Muhlis dikonfirmasi.

Muhlis menjelaskan, selama ini dirinya membeli kopi dari petani di Kecamatan Ijen dengan volume sekitar 1–2 kwintal per minggu.

Pembelian dilakukan melalui toko-toko penampung kopi milik petani.

Namun, kondisi saat ini berbeda. 

Gudang-gudang besar yang biasanya melayani pembelian dalam skala besar, kini hanya melayani partai kecil dengan batas minimal pembelian.

"Minimal 1 kwintal itu. Jadi gudang dulu yang beli dengan harga murah. Sekarang dikeluarkan dengan harga mahal. Karena harga kopi dunia memang," ujarnya.

Meski tekanan harga bahan baku semakin berat, Muhlis mengaku tidak menaikkan harga jual produk kopi bubuknya.

Hingga kini, ia tetap menjual kopi arabika bubuk seharga Rp 240 ribu per kilogram.

Keputusan tersebut diambil demi menjaga daya beli konsumen.

Sikap serupa ditunjukkan Saleh, pemilik Kopi Raisa.

Ia memilih bertahan dengan harga jual normal, yakni Rp 40 ribu hingga Rp 60 ribu per kemasan kopi arabika bubuk, meskipun margin keuntungan terus tergerus.

Menurutnya, kenaikan harga kopi memang kerap terjadi menjelang akhir masa panen, terutama pada November hingga Desember.

Namun, lonjakan kali ini terasa lebih berat. Meski demikian, ia enggan membebani konsumen, terlebih pelanggan setianya berasal dari berbagai daerah, seperti Jakarta dan Bandung.

"Tidak, kalau saya tidak dinaikkan. Kasian konsumen," tandasnya. (ham/fid)

 

Editor : Adeapryanis
#harga kopi naik #Bondowoso