Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Pesan Susu Lewat Facebook Ternyata Truk Datang Kosong, Supplier Susu ke SPPG di Bondowoso Tertipu Rp 75 Juta

Ilham Wahyudi • Rabu, 14 Januari 2026 | 16:34 WIB
KOSONG:Salah seorang warga di Dusun Congkrong, Desa Taman, Kecamatan Grujugan melihat truk yang awalnya dianggap membawa susu.
KOSONG:Salah seorang warga di Dusun Congkrong, Desa Taman, Kecamatan Grujugan melihat truk yang awalnya dianggap membawa susu.

TAMAN, Radar Ijen – Niat menutup kelangkaan pasokan susu untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bondowoso justru berujung petaka.

Murofik, supplier susu UHT untuk di Bondowoso, menjadi korban dugaan penipuan bermodus jual beli online. Uang puluhan juta rupiah raib, sementara truk yang datang ke lokasi ternyata kosong melompong.

Peristiwa itu bermula saat Murofik mencari pasokan susu UHT merk Ultra dan Indomilk ukuran 125ml dan 115ml.

Selama ini, ia biasa mengambil langsung ke gudang distributor di Jember. Namun, stok sering kosong. Ia pun mencari alternatif lewat marketplace Facebook.

Di platform tersebut, ia menemukan akun yang menjual susu dengan harga standar pasar, sekitar Rp 103 ribu hingga Rp 108 ribu per karton.

Harga itu tak mencurigakan. Bahkan, masih tergolong normal. “Makanya kami percaya, karena harganya standar,” ujarnya.

Komunikasi pun berlanjut lewat WhatsApp. Penjual mengaku sanggup menyediakan seribu karton susu dan menjanjikan pengiriman secepatnya.

Murofik diminta mengirim alamat dan foto KTP sebagai syarat administrasi.

Sore harinya, penjual mengabarkan barang siap dikirim. Bahkan, ia rutin memberi kabar posisi truk.

Mulai masuk Sidoarjo, berhenti isi solar, hingga dipastikan tiba sekitar pukul 23.00 WIB.

Sopir menyerahkan kwitansi dan mengaku bernama Abdul, sesuai dengan nama di nota transaksi. Hal itu semakin menguatkan kepercayaan korban.

“Saya tanya, ini pak Abdul? Dia jawab iya,” kata Murofik.

Korban sempat hendak menurunkan barang. Namun sopir meminta pembayaran diselesaikan lebih dulu.

Saat itu, sopir terlihat mondar-mandir sambil menelepon. Dari ujung telepon, penjual kembali mendesak pembayaran.

“Saya tanya lagi, ini susunya ya? Sopirnya jawab iya,” ungkapnya.

Merasa aman, korban akhirnya mentransfer uang Rp 75 juta dari total nilai transaksi Rp 99 juta. Transfer dilakukan ke rekening yang tercantum di nota.

Namun begitu pintu bak truk dibuka, kenyataan pahit terungkap. Truk itu kosong. Tak ada satu karton susu pun di dalamnya.

“Begitu dibuka, barangnya kosong. Nggak ada apa-apanya,” katanya.

Saat mencoba menghubungi nomor penjual, Murofik mendapati dirinya sudah diblokir. Semua komunikasi terputus.

Ini menjadi pengalaman pertama baginya membeli susu lewat perantara online. Selama ini, ia selalu bertransaksi langsung dengan distributor resmi.

Uang yang ditransfer pun bukan uang pribadi. Murofik mengaku harus mencari pinjaman untuk menalangi pembelian tersebut.

Susu itu rencananya akan didistribusikan ke dapur-dapur SPPG yang selama ini kekurangan pasokan.

“Kita ini mau nyetok biar dapur-dapur nggak keteteran susu lagi,” ujarnya. (ham)

Editor : M. Ainul Budi
#Penipuan #SPPG #Mbg #Bondowoso