Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Rusaknya Aspal Jalan di Cermee Bukan Kesalahan Kontraktor? Bupati Bondowoso Langsung Tinjau Lokasi Pasca Banjir

Ilham Wahyudi • Senin, 12 Januari 2026 | 18:48 WIB

 

DIPANTAU LANGSUNG: Bupati, Ketua DPRD dan Plt Kepala Dinas BSBK Bondowoso memantau jalan yang rusak di Cermee pasca diterjang banjir.
DIPANTAU LANGSUNG: Bupati, Ketua DPRD dan Plt Kepala Dinas BSBK Bondowoso memantau jalan yang rusak di Cermee pasca diterjang banjir.

CERMEE, Radar Ijen – Banjir merendam lima desa di Kecamatan Cermee, Minggu (11/1) malam, menyusul hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak sore hingga malam hari.

Lima desa terdampak yakni Desa Cermee, Ramban Kulon, Ramban Wetan, Suling Kulon, dan Grujugan.  

Dari lima desa itu, kurang lebih ada 875 kepala keluarga terdampak.

Tak hanya pemukiman warga, Kantor Kecamatan Cermee, lembaga pendidikan, pondok pesantren hingga pertokoan di sekitar wilayah Kecamatan Cermee turut digenangi air.

Namun selain banjir. Sorotan warga tertuju pada kualitas aspal jalan.

Sebab kerusakan ruas jalan beraspal yang baru direkonstruksi di Bondowoso menuai sorotan publik.

Namun Plt Kepala BSBK Bondowoso, Ansori, menegaskan kerusakan tersebut bukan disebabkan kualitas pekerjaan, melainkan murni akibat terjangan air banjir dengan debit besar.

Ansori menjelaskan, jalan tersebut baru diaspal sekitar satu hingga dua bulan lalu dan telah dinyatakan selesai 100 persen pada akhir 2025.

“Bukan karena pekerjaan, baik penanganan, rehabilitasi, maupun rekonstruksi jalannya. Tapi air memang banter (deras, red),” tegasnya.

Ia memaparkan, kerusakan ditandai dengan aspal yang terangkat dari bawah, bukan mengelupas dari atas.

Kondisi ini terjadi karena drainase di sisi kanan dan kiri jalan tidak mampu menampung debit air, sehingga air masuk dari bawah lapisan aspal.

Bahkan, lanjut Ansori, air sempat keluar dari dalam aspal. Kondisi diperparah oleh arus air yang sangat kencang serta pembukaan aliran air dari hulu secara tiba-tiba, sehingga menyebabkan luapan.

“Air dari hulu dibuka seketika. Debitnya besar, drainase tidak mampu menampung,” jelasnya.

Meski demikian, Ansori memastikan kualitas aspal telah sesuai spesifikasi teknis yang ditentukan dalam kontrak pekerjaan.

Untuk penanganan awal, jalan yang rusak akan diratakan sementara agar tetap bisa dilalui dan tidak membahayakan pengguna jalan.

Selanjutnya, perbaikan permanen akan dilakukan oleh dinas melalui PPTK dan tim teknis, mengingat proyek tersebut masih dalam masa pemeliharaan.

Ansori juga mengungkapkan, solusi jangka panjang membutuhkan normalisasi drainase di ruas tersebut dengan estimasi anggaran sekitar Rp 2 miliar.

Perbaikan drainase direncanakan menggunakan box culvert di sisi kanan dan kiri jalan.

Namun, karena anggaran tersebut belum masuk dalam APBD awal, langkah darurat tetap dilakukan bersama camat, kepala desa, dan tokoh masyarakat setempat.

Hasil pengamatan di lapangan menemukan adanya jalan keluar masuk (JKM) milik warga yang posisinya terlalu rendah dan justru menghambat aliran air.

“JKM itu seharusnya berada di atas saluran, bukan malah mempersempit jalannya air. Akibatnya air masuk ke jalan,” ujarnya.

Ia menambahkan, panjang ruas jalan yang direkonstruksi mencapai 228 meter dengan lebar 4 meter.

Sementara bagian yang rusak akibat banjir sekitar 20 meter. Sebagai solusi sementara, dilakukan pengerukan dan normalisasi darurat agar aliran air kembali lancar.

“Ada dua paket pekerjaan, dari APBD awal dan PAPBD,” pungkasnya. (ham/bud)

Editor : M. Ainul Budi
#Abdul Hamid #Cermee #Banjir #Bondowoso