DABASAH, Radar Ijen - Kabupaten Bondowoso kembali dihadapkan pada tingginya tingkat kerawanan bencana.
Sepanjang tahun 2025, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sedikitnya 314 kejadian bencana terjadi di berbagai wilayah, dengan cuaca ekstrem dan angin kencang menjadi ancaman paling dominan.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Bondowoso, Kristianto, mengatakan tingginya frekuensi bencana tidak lepas dari kondisi cuaca ekstrem yang berlangsung hampir sepanjang tahun.
Menurutnya, perubahan pola cuaca membuat wilayah Bondowoso semakin rentan terhadap berbagai jenis bencana.
“Cuaca ekstrem masih menjadi ancaman utama. Dampaknya tidak hanya kerusakan fisik, tetapi juga menyangkut keselamatan warga,” ujarnya, Kamis (8/1).
Data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Bondowoso yang dirilis 1 Januari 2026 menunjukkan, bencana cuaca ekstrem dan angin kencang tercatat sebanyak 127 kejadian.
Jenis bencana lain yang juga menonjol yakni erupsi gunung sebanyak 92 kejadian, disusul tanah longsor 29 kejadian dan kekeringan 19 kejadian.
Selain cuaca ekstrem, BPBD juga mencatat kejadian banjir sebanyak 18 peristiwa, gempa bumi 11 kejadian, kejadian non-alam 10 kejadian, banjir bandang enam kejadian, serta kebakaran hutan dan lahan tiga kejadian.
Sebaran kejadian tersebut menunjukkan kompleksitas risiko bencana yang dihadapi daerah.
Dari sisi kemanusiaan, bencana sepanjang 2025 mengakibatkan empat orang meninggal dunia.
Tiga korban meninggal akibat kecelakaan air, sementara satu orang lainnya dilaporkan hilang.
Selain itu, sebanyak 15 warga mengalami luka-luka akibat berbagai kejadian bencana.
Kerusakan juga terjadi pada infrastruktur dan permukiman warga. BPBD mencatat sebanyak 508 rumah mengalami kerusakan, terdiri dari 364 rumah rusak ringan, 105 rusak sedang, dan 39 rusak berat.
Sebanyak 23 fasilitas umum turut terdampak akibat bencana.
Kristianto menambahkan, secara keseluruhan terdapat 6.265 kepala keluarga yang terdampak bencana di 23 kecamatan di Bondowoso.
Dengan luas wilayah mencapai 1.560,10 kilometer persegi dan jumlah penduduk 788.007 jiwa, BPBD menegaskan pentingnya penguatan mitigasi, edukasi kebencanaan, serta kesiapsiagaan masyarakat guna menekan risiko bencana ke depan.
"Kunci utama yaitu mitigasi bencana yang matang agar antisipasi makin kuat," pungkasnya.(faq/bud)
Editor : M. Ainul Budi