Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Dibalik Pengajuan Tiga Budaya Bondowoso Masuk WBTBI, Sempat Ditolak Akibat Kurang Kajian Akademis?

Ilham Wahyudi • Jumat, 9 Januari 2026 | 18:34 WIB

 

TERUS PRODUKSI: Para karyawan sedang bekerja di pabrik tape Handayani 82 yang terletak di Kelurahan Nangkaan, Bondowoso.
TERUS PRODUKSI: Para karyawan sedang bekerja di pabrik tape Handayani 82 yang terletak di Kelurahan Nangkaan, Bondowoso.

radar jember - MENJAGA tradisi bukan cuma soal panggung budaya, tapi juga soal data, kajian, dan pengakuan.

Di Bondowoso, upaya mendorong warisan lokal masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI) pernah mentok, bukan karena nilai tradisinya kurang, melainkan karena ruang risetnya kosong.

Pamong Budaya Ahli Muda, Sub Koordinator Seni Tradisi dan Budaya, Endah Listyorini, mengungkap usulan Selamatan Gugur Gunung di Desa Ramban Kulon sempat tersendat pada 2022 lalu, lantaran belum ada kajian akademik dari perguruan tinggi.

“Jadi selama ini tidak ada mahasiswa atau universitas yang mempelajari tentang selamatan gugur gunung ini,” katanya.

Bondowoso, kata Endah, tak kehabisan akal.

Setelah pengajuan ulang pada 2024, tradisi itu akhirnya resmi ditetapkan pada 2025, bersamaan dengan Topeng Kona dan Tape Bondowoso, dua warisan yang punya rekam jejak riset lebih dulu.

“Kalau tape kemarin kita dapat menemukan sih dari beberapa artikel atau kajian,” imbuhnya.

Dalam penilaian BBTB, yang dicari bukan sekadar serupa, tapi pembeda. Tape Bondowoso, misalnya, unggul pada proses tanam 10 bulan di tanah berpasir, kualitas rasa manis-keset, potongan 10 cm, dan daya tahan yang lebih lama, detail yang jadi identitas pembeda di tengah lautan tape nusantara.

“Karena di situ mempunyai ciri khas yang kabupaten kota lainnya itu tidak memiliki,” jelasnya.

Hal yang sama berlaku untuk seni Topeng Konah dan potensi warisan lain seperti Ojung Bondowoso.

Selama ada unsur yang linier, spesifik, dan berbeda dari daerah lain, usulan masih punya peluang untuk kembali diakui.

“Ya, BBTB ini ditetapkan jika ada perbedaan dengan daerah lain. Nah itu baru, jadi perbedaannya itu yang dicari,” tuturnya.

Karena bagi Endah, tradisi yang tak diteliti, mudah terlupakan. Tapi tradisi yang punya data, bisa diakui dunia.

Dan kini, kampus-kampus mulai diajak turun ke desa, bukan hanya untuk tugas kuliah, tapi untuk memastikan warisan Bondowoso punya masa depan.

“Tradisi atau budaya harus masuk dalam Data pokok kebudayaan, baru dapat diusulkan,” pungkasnya. (ham/bud)

 

Editor : M. Ainul Budi
#warisan budaya #tape #WBTBI #Bondowoso