DABASAH, Radar Ijen - Bondowoso kembali menambah koleksi warisan budaya tak benda Indonesia (WBTBI). Setelah sepuluh tahun lalu, Singo Ulung ditetapkan sebagai WBTBI. Kini giliran Tape, Slametan gugur gunung serta Topeng kona.
Hal tersebut membutuhkan proses yang cukup panjang untuk. Bahkan sebelumnya sempat ditolak, akibat kurang kajian akademis.
Diketahui, Slametan gugur gunung yang biasa dilaksanakan di Desa Ramban Kulon Kecamatan Cermee, diusulkan menjadi WBTB lebih dulu pada 2022 lalu.
Namun karena kurangnya narasi, pengajuan tersebut ditolak. Tak mau berhenti disitu Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso, memilih untuk melengkapinya.
Kemudian pada 2024 lalu, mereka kembali mengajukan Slametan Gugur gunung bersama Tape dan Topeng konah untuk menjadi WTBI.
Hasilnya, pada 15 Desember lalu tiga hal tersebut diumumkan secara resmi sebagai WTBI, oleh Menteri Kebudayaan.
“Tapi salinan sertifikatnya baru diserahkan 6 Januari kemarin,” katanya Gede Budiawan, Kabid Kebudayaan Disparbudpora Bondowoso.
Pria yang akrab disapa Budi itu menyebut, penetapan status WTBI secara tidak langsung memberikan hak paten tiga hal di atas kepada Bondowoso.
Sehingga warisan yang baru ditetapkan tersebut, menjadi fokus pelestarian.
“Artinya kalau kita sudah dinyatakan untuk fokus pelestarian. Serta harus menjadi kewajiban suatu daerah untuk melestarikannya,” tegasnya.
Melihat banyaknya tradisi dan budaya yang ada dan lestari di Bondowoso, Budi menyebut, tahun ini kam kembali mengusulkan tradisi Pojien sebagai warisan budaya tak benda, kepada Kementerian Kebudayaan RI.
“Kami masih mencoba mencari referensinya, karena pengalaman dari yang tiga kemarin ini luar biasa untuk verifikasinya,” imbuhnya.
Sebelum ditetapkan, Kementerian akan memastikan bahwa apa yang diusulkan itu benar-benar ada, benar-benar lestari, benar-benar dilakukan oleh masyarakat.
Serta sudah memperoleh kajian dari pihak-pihak yang kompeten.
Oleh sebab itu, dia berencana bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi.
“Kami sudah menjalin komunikasi dua universitas dengan Jember dan UM, untuk membantu kami untuk WBTP ke depan,” pungkasnya. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi