Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Ternyata Ini Penyebab Siswa di Bondowoso Keracunan MBG

Ilham Wahyudi • Rabu, 7 Januari 2026 | 10:10 WIB

TEGAS: Sekda Bondowoso, Fathur Rozi menyampaikan hasil uji laboratorium penyebab keracunan di SPPG Al hidayah 3.(ILHAM WAHYUDI/RADAR IJEN)
TEGAS: Sekda Bondowoso, Fathur Rozi menyampaikan hasil uji laboratorium penyebab keracunan di SPPG Al hidayah 3.(ILHAM WAHYUDI/RADAR IJEN)

RADAR JEMBER - Masih ingat kasus dugaan keracunan massal di Kecamatan Sumber wringin beberapa waktu lalu?.

Peristiwa itu menimpa puluhan siswa, pasca mengkonsumsi menu makanan bergizi gratis (MBG) dari Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) Al Hidayah 3, yang ada di Desa Rejoagung, Kecamatan Sumberwringin.

Awalnya, peristiwa keracunan massal itu diduga akibat menu susu kedelai yang diberikan kepada siswa.

Oleh sebab itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso melakukan uji laboratorium terhadap semua sampel makanan yang diberikan pada hari yang sama. Namun, hasilnya bukan susu kedelai yang diduga menjadi penyebab keracunan.

Berdasarkan hasil uji laboratorium yang dilakukan, penyebabnya adalah tumis kacang labu, karena diduga mengandung nitrit berlebih.

Sementara bahan lainnya, meski mengandung senyawa kimia itu, namun masih dalam ambang batas normal.

Sekretaris Daerah (Sekda) Bondowoso, Fathur Rozi mengatakan, berdasarkan hasil uji laboratorium yang dilaporkan Dinkes Bondowoso.

Dia memastikan penyebab keracunan massal, bukan akibat susu kedelai yang dikonsumsi para korban.

“Ada beberapa kemungkinan. Bisa dari proses memasak bahan itu, ada potensi SOP yang tidak dilakukan dengan benar,” katanya.

Kemungkinan kedua adalah proses memasak hingga pendistribusian terlalu lama.

Berdasarkan SOP yang berlaku, nasi yang sudah dimasak harus didinginkan terlebih dahulu, sebelum dibungkus ke dalam ompreng.

Ketika dibungkus dalam kondisi panas, menurut Fathur, maka dapat mempengaruhi kandungan yang ada di dalam makanan itu.

“Ketika kondisi tubuh tidak sehat, maka akan menimbulkan reaksi,” imbuhnya.

Sebelumnya, kejadian tersebut terjadi di 5 sekolah dengan korban 77 orang, termasuk guru dan murid.

Meski SPPG Al Hidayah 3, melayani kurang lebih 59 sekolah, dengan jumlah penerima manfaat mencapai 3400 orang.

Menanggapi hal tersebut, Fathur menjelaskan, hal tersebut akibat SOP yang diabaikan serta terlalu lama dalam proses distribusi.

“Informasinya ada pada nasi dan sayurnya,” tuturnya.

Melihat hal tersebut, dia menegaskan akan melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap semua SPPG yang ada.

Sehingga kejadian serupa tidak kembali terjadi dalam beberapa waktu mendatang.

Tak ada sanksi terhadap SPPG Al Hidayah 3, bahkan saat ini sudah kembali beroperasi, pasca dihentikan sementara.

“Sudah dibuka lagi, izin untuk dibuka kembali sudah keluar,” pungkasnya. (ham/fid)

Editor : Adeapryanis
#Mbg #keracunan #Bondowoso