Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Ternyata Dari Dulu Kalipait Belum Diresmikan? Polemik Belum Tuntas, BBKSDA Buka Suara, Disparbudpora Bondowoso Belum Mau Komentar

Faqih Humaini • Senin, 5 Januari 2026 | 19:15 WIB
SEJUK: Sejumlah pengunjung wisata Kalipait di Bondowoso ketika menikmati keindahan alam.
SEJUK: Sejumlah pengunjung wisata Kalipait di Bondowoso ketika menikmati keindahan alam.

Radar Ijen - Objek wisata Kalipait yang berada di kawasan Kecamatan Ijen hingga kini masih belum dapat ditentukan waktu pembukaannya.

Selain persoalan sampah, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur menegaskan bahwa permasalahan Kalipait juga menyangkut status kawasan, kesiapan pengelolaan, serta faktor keselamatan pengunjung yang belum memenuhi standar wisata alam.

Kepala Bidang KSDA Wilayah III Jember–Bondowoso–Banyuwangi BBKSDA Jawa Timur, Purwantono, mengatakan penutupan dilakukan sebagai langkah antisipatif.

Menurutnya, pembukaan kawasan wisata alam harus didukung kesiapan sarana prasarana penunjang dan petugas yang siaga di lapangan.

“Sampai saat ini Kalipait belum siap, baik dari sisi fasilitas maupun pengamanan,” ujarnya.

Purwantono menjelaskan, salah satu keluhan utama masyarakat adalah persoalan sampah yang ditinggalkan pengunjung. Hal itu terjadi karena lokasi Kalipait berada tepat di pinggir jalan, sehingga memudahkan siapa pun untuk singgah.

Keluhan tersebut, kata dia, selama ini juga telah diterima oleh Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso.

Ia menambahkan, kerap muncul anggapan bahwa Kalipait merupakan objek wisata yang dikelola oleh Dinas Pariwisata Bondowoso.

Padahal, kawasan tersebut berada dalam wilayah konservasi. Bahkan dalam rapat di Balai Desa Kalianyar pada 12 September 2025 lalu, sempat disampaikan usulan agar Kalipait ditutup sementara guna mencegah kunjungan dan meminimalkan timbulan sampah.

Selain persoalan kebersihan, aspek keselamatan pengunjung menjadi perhatian serius. Purwantono mengungkapkan, masih sering ditemui pengunjung yang naik ke tebing-tebing batu yang berbahaya.

Risiko lain yang diwaspadai adalah potensi munculnya gas beracun yang terbawa aliran air dari kawah, yang dapat membahayakan keselamatan jika tidak diawasi secara ketat.

Ia menegaskan, ada sejumlah kriteria yang harus dipenuhi sebelum suatu lokasi di kawasan konservasi dibuka sebagai tempat wisata.

Di antaranya berada dalam blok pemanfaatan Taman Wisata Alam, tersedianya sarana prasarana yang memadai seperti shelter, toilet, tempat parkir, rambu dan papan peringatan, musholla, serta pos jaga, juga adanya petugas yang standby setiap saat.

Selain itu, lokasi harus dilaunching secara resmi oleh pengelola, dalam hal ini BBKSDA Jawa Timur.

“Sejak dulu Kalipait memang tidak pernah dibuka secara resmi. Karena aksesnya mudah, pengunjung tetap datang. Akibatnya muncul sampah dan risiko kecelakaan, lalu siapa yang bertanggung jawab,” kata Purwantono.

Menurutnya, penutupan dilakukan untuk mencegah masalah yang lebih besar.

“Daripada muncul persoalan, kami memilih menutup, bukan hanya karena sampah, tetapi juga karena kondisi kawasan dan status pengelolaannya yang belum siap,” pungkasnya.

Sementara itu BKSDA sudah memberikan komentarnya secara gamblang. Berbeda dengan pihak Dinas Pariwisata Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso.

Hari ini, Jawa Pos Radar Ijen sudah berupaya mengkonfirmasi Kabid Pariwisata Disparbupora Bondowoso, Yuni Dwi Sri Handayanim, namun belum memberikan komentar, “Nanti kita rembuk dengan pimpinan dahulu,” tegasnya. (faq/ham/bud)

 

Editor : M. Ainul Budi
#kalipait #Ijen #bbksda #Bondowoso