Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Menelusuri Lebih Dalam Tradisi Asatan di Bendungan Sampean Baru Bondowoso, Ratusan Warga Mancing Ikan di Bendungan

Ilham Wahyudi • Jumat, 2 Januari 2026 | 17:08 WIB
BERJIBAKU: Sejumlah pengunjung Asatan di Bendungan Sampean Baru mencari ikan ditengah tebalnya sedimentasi lumpur.
BERJIBAKU: Sejumlah pengunjung Asatan di Bendungan Sampean Baru mencari ikan ditengah tebalnya sedimentasi lumpur.

TAPEN, Radar Ijen - Saat pintu bendung dibuka, ribuan orang ikut mengalir ke Sungai Sampean Baru. Mereka bukan wisatawan, bukan juga penonton festival semata.

Mereka adalah pemburu ikan mabuk, warga yang percaya rezeki pagi itu menunggu di lumpur yang digelontor negara.

Bondowoso punya ritual tahunan yang tak butuh undangan resmi.

Yakni Asatan di Bendung Sampean Baru, Desa/Kecamatan Tapen. Bendungan disurutkan untuk flushing lumpur.

Warga dari berbagai kecamatan, bahkan dari sepanjang aliran sungai hingga perbatasan Situbondo, turun membawa jaring, serok, karung, dan ember.

Waduk yang dikuras untuk usia layanan irigasi, justru jadi ajang panen instan bagi warga.

Di tengah kerumunan, ada Reza, pelajar SMP dari Kecamatan Wonosari. Ia bukan bagian dari rombongan besar.

Ia datang sendirian, mengayuh sepeda pancal sejak jam 06.00 WIB. Jarak 5,1 kilometer dari Wonosari ke Tapen ditempuh tanpa ragu. "Sendiri, mumpung liburan," katanya.

Tak jauh dari Tapen, Ziker memilih strategi berbeda.

Ia tak ikut menyerbu bendung. Ia menunggu arus rezeki lewat di wilayahnya sendiri: aliran sungai dekat Kantor Kecamatan Prajekan. Kerumunan di bendung membuatnya ogah mendekat.

Sungai sudah penuh bahkan sebelum ia tiba.

"Aku di Prajekan, nunggu disini. Di Samba rame. Sepanjang sungai sampai Perbatasan Situbondo itu full," jelasnya.

Flushing sendiri, menurut Wahyu Adi Nugraha, Kepala Unit Pengelola Bendung 1 BBWS Brantas, bukan sekadar membuka pintu air.

Ini operasi teknis untuk menyelamatkan masa depan sawah. "Flushing ini sistemnya buka tutup pintu untuk menggelontorkan sedimentasi," jelasnya.

Delapan hari, nonstop, hingga hari ini (31/12) pukul 18.00 WIB. Targetnya bukan ikan, tapi sedimentasi 300.000 meter². Volume lumpur yang digelontor untuk memperpanjang umur layanan waduk yang jadi saluran irigasi puluhan ribu hektar sawah, plus sumber listrik mikrohidro. Flushing tak dilakukan sembarangan.

Negara ikut menahan napas menyesuaikan masa tanam. "Jadi kita koordinasi dengan seluruh Hippa, dan dinas terkait," ujarnya.

Ikan yang diburu warga, Sebagian memang tebaran benih dari Dinas Peternakan. Ada Tawes, Nila, Mujaer, plus ikan alami sungai yang lebih dulu tinggal di waduk sebelum manusia ramai menyusul. "Kemarin yang disebarkan Nila," ungkapnya.

Tahun ini, euforia Asatan dikemas dalam Festival Asatan. Ada tari tradisional, bazar UMKM yang diikuti hampir 81 pelaku UMKM, dan hiburan yang membuat bendung tak hanya jadi lokasi teknis, tapi juga ruang pertemuan sosial.

Semua itu bukan gimmick, tapi respons atas fakta di lapangan, setiap asatan selalu membludak.

Sejarah bendung ini sendiri panjang. Ia lahir dari rencana Hindia Belanda pada 1930. Sempat dikerjakan di era Jepang, gagal akibat banjir 1945, dibangun ulang 8 kali antara 1970–1984, lalu diresmikan 1985 dan beroperasi hingga kini.

"Bendung awal-awal dibangun Hindia Belanda" begitu Wahyu menegaskan jejak awalnya.

Terkait tradisi Asatan pertama kali dimulai? Tidak ada yang bisa memastikan tanggal pastinya.

Yang jelas tradisi ini sudah hidup jauh lebih lama dari SK bendung, bahkan mungkin lebih tua dari banyak warga yang hadir pagi itu.

Istilah Asatan sendiri berasal dari bahasa Madura, artinya surut. Tapi di Tapen, maknanya meluas surutnya air, naiknya kerumunan, dan tumpahnya rezeki, meski hanya satu plastik udang bagi yang kalah cepat. (ham/bud)

 

Editor : M. Ainul Budi
#Bendungan Sampean Baru #Asatan #Bondowoso