RADAR JEMBER – Pemkab Bondowoso memperkuat langkah pelestarian situs kubur bilik batu peninggalan tradisi megalitik dengan menyiapkan program renovasi dan penataan berkelanjutan.
Upaya ini dilakukan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut sekaligus menjaga keberadaan situs sebagai warisan budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi.
Subkoordinator Sejarah dan Cagar Budaya Bidang Kebudayaan Disparbudpora Bondowoso, Hery Kusdaryanto, menegaskan bahwa sejumlah situs kubur bilik yang tersebar di beberapa kecamatan telah masuk dalam pendataan cagar budaya dan menjadi prioritas pelestarian.
“Ke depan, kami tidak hanya fokus pada pendataan, tetapi juga penanganan fisik. Renovasi dilakukan secara bertahap dengan prinsip konservasi agar bentuk asli bilik tetap terjaga,” ujarnya.
Menurut Hery, kondisi beberapa bilik kubur mulai mengalami pelapukan akibat faktor usia dan lingkungan.
Karena itu, renovasi difokuskan pada penguatan struktur, perbaikan batu penutup, serta penataan area sekitar situs agar aman dari aktivitas yang berpotensi merusak.
Ia menjelaskan, renovasi tidak dilakukan sembarangan karena setiap bilik memiliki karakter dan nilai arkeologis yang berbeda.
“Bentuk bilik ada yang persegi, kerucut, hingga menyerupai prisma. Semua ini harus dipertahankan keasliannya karena berkaitan dengan sistem sosial masyarakat megalitik,” jelasnya.
Selain perbaikan fisik, pemerintah daerah juga menyiapkan dokumentasi lanjutan sebagai dasar kajian ilmiah dan edukasi publik.
Pola hias, susunan batu, hingga temuan bekal kubur akan dicatat secara detail sebelum dilakukan penanganan.
Hery menegaskan, pelestarian kubur bilik bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan dukungan masyarakat sekitar.
Dengan renovasi dan pengamanan yang tepat, situs-situs tersebut diharapkan dapat bertahan sebagai sumber pengetahuan sejarah dan identitas budaya Bondowoso.
“Target kami, situs kubur bilik tidak hanya terlindungi, tetapi juga bisa dimanfaatkan sebagai media edukasi budaya. Renovasi ini adalah investasi jangka panjang untuk menjaga warisan leluhur,” pungkasnya. (faq/fid)
Editor : Adeapryanis